internasional

Harga Energi Naik Tajam, Dunia Waspada Dampak Inflasi dan Ancaman Perlambatan Ekonomi Global

Rabu, 1 April 2026 | 09:20 WIB
CEO BlackRock, Larry Fink.Pergerakan pasar energi global menjadi perhatian setelah prediksi harga minyak bisa mencapai 150 Dolar AS memicu risiko resesi. (Dok. Blackrock.com)

Penurunan disposable income berpotensi menekan konsumsi yang merupakan kontributor utama produk domestik bruto banyak negara.

Baca Juga: Krisis Selat Hormuz Ancam Distribusi Energi Indonesia, 2 Tanker Pertamina Masih Tunggu Jalur Aman

Penurunan konsumsi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko perlambatan ekonomi secara bertahap.

Stabilitas Energi Jadi Faktor Penentu Arah Ekonomi Global Kedepan

Fink menegaskan stabilitas harga energi merupakan faktor penting menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurutnya pasar global sangat sensitif terhadap durasi harga minyak tinggi dibandingkan sekadar kenaikan jangka pendek.

Baca Juga: Strategi Prabowo Bangun SDM dan Ekonomi Desa Lewat Program Pendidikan, Pangan, dan Energi Terpadu

Ia menyebut kepastian pasokan energi menjadi variabel penting menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar keuangan global.

Sejumlah laporan media juga mencatat harga energi sebagai indikator utama risiko resesi sejak krisis energi global 2022.

Data lembaga energi internasional menunjukkan setiap lonjakan tajam harga minyak historis sering diikuti perlambatan ekonomi global.****

Halaman:

Tags

Terkini