Temuan ini memperkuat bahwa nama Hormuz telah dikenal dalam jaringan perdagangan kuno jauh sebelum menjadi simbol geopolitik energi modern.
Kerajaan Maritim Hormuz Pernah Kuasai Perdagangan Jalur Teluk Persia Strategis
Sejarah mencatat Kerajaan Hormuz berkembang antara abad ke-10 hingga abad ke-17 sebagai kekuatan maritim pengendali perdagangan regional.
Baca Juga: Prabowo Bawa Investasi Rp575 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan, Ini Dampaknya Bagi Ekonomi
Ancaman invasi Mongol mendorong relokasi pusat pemerintahan dari daratan Iran ke Pulau Jarun sekitar tahun 1300 demi keamanan politik.
Sejak perpindahan itu, nama Hormuz melekat pada pulau dan selat di sekitarnya hingga dikenal dunia sebagai Selat Hormuz.
Perebutan Portugis Hingga Safawi Ubah Hormuz Menjadi Simbol Perebutan Global
Tahun 1507, penjelajah Portugis Afonso de Albuquerque menaklukkan Pulau Hormuz untuk mengendalikan jalur perdagangan rempah internasional.
Catatan sejarah maritim menyebut wilayah itu pernah dijuluki permata dunia karena kemakmuran perdagangan yang terjadi pada masa kolonial tersebut.
Pada 1622, Shah Abbas I dari Dinasti Safawi dengan dukungan British East India Company berhasil merebut kembali wilayah itu.
Selat Hormuz Kini Simbol Stabilitas Energi Dan Ketegangan Geopolitik Modern
Secara geografis, titik tersempit Selat Hormuz sekitar 33 kilometer dan berada di antara Iran serta Oman sebagai jalur navigasi internasional.
Posisi ini membuat kawasan tersebut menjadi fokus perhatian keamanan global karena dampaknya terhadap stabilitas harga energi dunia.
Warisan nama Hormuz hari ini menjadi pengingat panjangnya sejarah interaksi agama, perdagangan, dan geopolitik dalam satu kawasan strategis.****