• Sabtu, 18 April 2026

BI Hadapi Arus Keluar Modal Sejak 2024: Apa Dampaknya Pada Keputusan BI-Rate 4,75 Persen?

Photo Author
Budi Purnomo, 24jamnews.com
- Kamis, 20 November 2025 | 07:00 WIB
Gedung BI dengan latar langit mendung menggambarkan ketidakpastian ekonomi global.  (Facebook.com @Bank Indonesia)
Gedung BI dengan latar langit mendung menggambarkan ketidakpastian ekonomi global. (Facebook.com @Bank Indonesia)

NEWS SUMMARY:

  • BI diperkirakan menahan BI-Rate di 4,75% untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah fluktuasi global.
  • Arus keluar modal mencapai US$0,95 miliar, terutama dari penjualan obligasi pemerintah oleh investor asing.
  • Inflasi meningkat menjelang puncak permintaan musiman, menambah alasan BI menahan suku bunga.

24JAMNEWS.COM - Apakah Bank Indonesia (BI) akan benar-benar mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2025.

Atau justru mengirim sinyal baru kepada pasar bahwa tekanan eksternal mulai menuntut kebijakan yang lebih berhati-hati?

BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75 persen pada RDG November 2025 sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Yordania Tawarkan Proyek 1,3 Miliar Dolar AS ke Danantara, Mulai dari Gas hingga Jalan Tol

Fluktuasi rupiah terhadap dolar AS serta ketidakpastian global menjadi faktor utama bagi BI untuk tidak menurunkan suku bunga saat ini.

Tekanan Global dan Arus Modal Keluar

Di tengah prospek ‎Federal Reserve (The Fed) yang belum jelas arah kebijakannya, rupiah masih cenderung melemah.

Arus keluar modal juga tercatat meningkat: antara pertengahan Oktober – pertengahan November, aliran modal keluar bersih dari pasar obligasi dan saham Indonesia mencapai US$0,95 miliar.

Baca Juga: Jejak 5 Korporasi Tambang yang Dikaitkan dengan Gubernur dan Dampaknya ke Warga Maluku Utara

Hampir sepenuhnya akibat penjualan investor asing di pasar obligasi pemerintah.

Inflasi dan Permintaan Musiman: Dua Tekanan yang Terus Mengintai

Dari sisi domestik, infflasi mulai menunjukkan peningkatan seiring puncak permintaan musiman.

Hal itu ditekankan oleh Teuku Riefky dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).

Baca Juga: Transformasi Pengetahuan 2025: Strategi Pertamina Drilling Menguatkan Daya Saing Industri

Meskipun inflasi inti dan headline masih dalam target BI, tekanan makanan volatile dan input produksi menciptakan risiko bahwa inflasi bisa naik lebih cepat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X