internasional

Donald Trump dan Xi Jinping Siapkan Pertemuan 30 Oktober, Pasar Global Bergerak Naik

Senin, 27 Oktober 2025 | 21:02 WIB
Delegasi ekonomi AS–Tiongkok bertemu di sela KTT ASEAN Kuala Lumpur, membahas penurunan tarif dan kebijakan ekspor. (Facebook.com @Donald J. Trump)

NEWS SUMMARY:

  • Daftar hitam ekspor AS jadi sumber utama konflik perdagangan.
  • Investor menanti hasil konkret pertemuan Trump–Xi di Seoul.
  • Negosiasi AS–Tiongkok di KTT ASEAN picu optimisme ekonomi global.

24JAMNEWS.COM - Apakah babak baru perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok akan benar-benar berakhir, atau hanya jeda singkat sebelum badai berikutnya?

Pertanyaan ini kini menjadi sorotan dunia setelah tanda-tanda mencairnya tensi ekonomi global muncul dari pertemuan kedua negara di Kuala Lumpur, Malaysia.

Dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, mulai menurunkan tensi perang dagang.

Baca Juga: 97 Tahun Sumpah Pemuda: Dari Kongres Pemuda II Hingga Peringatan Nasional

Setelah pejabat ekonomi tinggi kedua negara bertemu di sela KTT ASEAN di Kuala Lumpur pada Sabtu, 25 Oktober 2025.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif hingga 100 persen terhadap produk asal Tiongkok mulai 1 November 2025.

Langkah itu merupakan respons atas kebijakan Beijing yang memperluas pengendalian ekspor logam tanah jarang dan mineral penting bagi industri teknologi global.

Baca Juga: TGUK Alihkan Rp42,9 Miliar Untuk Ekspansi Bisnis Daging Beku dan Makanan Olahan

Namun, situasi kini mulai mencair setelah kedua pihak menyatakan kesediaan untuk melanjutkan dialog.

Menurut keterangan resmi Kementerian Keuangan AS, pembahasan berlangsung “konstruktif” dan akan dilanjutkan pada hari berikutnya.

Daftar Hitam Ekspor Jadi Sumber Utama Ketegangan Global

Ketegangan dagang sebelumnya meningkat setelah Washington memperluas daftar hitam ekspor yang mencakup ribuan korporasi asal Tiongkok.

Baca Juga: BBTN Catat Kenaikan Laba Sebesar Dua Digit, Aset Sentuh hingga Rp510,85 Triliun

Akibatnya, banyak perusahaan teknologi kehilangan akses terhadap perangkat keras dan lunak buatan AS, memicu kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok global.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Keuangan Tiongkok, Li Chenggang, menegaskan bahwa kebijakan pengendalian ekspor logam tanah jarang dilakukan untuk menjaga stabilitas industri domestik.

Halaman:

Tags

Terkini