NEWS SUMMARY:
- Viral foto Prabowo dan Trump memicu polemik setelah beredar luas di media sosial tanpa sumber resmi yang dapat diverifikasi.
- Pemeriksa fakta memastikan gambar merupakan rekayasa AI yang digunakan untuk membangun opini tertentu terhadap figur publik.
- Publik diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap disinformasi, fitnah, dan manipulasi visual berbasis teknologi kecerdasan buatan.
24JAMNEWS.COM - Mengapa foto hasil Artificial Intelligence bisa dipercaya jutaan orang hanya dalam hitungan jam di media sosial?
Apakah masyarakat Indonesia sudah siap menghadapi era disinformasi digital berbasis teknologi kecerdasan buatan?
Viral Foto Prabowo dan Trump Ungkap Bahaya Hoaks Era Artificial Intelligence
Sebuah foto yang menampilkan Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump memamerkan produk daging babi viral dan memicu polemik luas di media sosial.
Konten tersebut segera menyedot perhatian publik karena menyentuh isu sensitif yang berkaitan dengan identitas tokoh politik dan persepsi masyarakat Indonesia.
Namun akun pemeriksa informasi @cekfkta.ri memastikan gambar tersebut tidak autentik dan merupakan hasil manipulasi teknologi Artificial Intelligence.
Cek Fakta RI menyatakan tidak pernah ada dokumentasi resmi maupun bukti visual asli yang mendukung klaim narasi dalam unggahan tersebut.
“Narasi ini jelas menyesatkan dan tidak berdasar,” tulis Cek Fakta RI dalam klarifikasi resminya, Minggu (1/3/2026).
Baca Juga: Mobilisasi Cabai Jadi Strategi Baru Pemerintah Jaga Inflasi Pangan dan Stabilkan Harga Cabai Rawit
Teknologi Artificial Intelligence Mempercepat Produksi Konten Manipulatif Yang Sulit Dibedakan
Kemajuan teknologi AI memungkinkan siapa pun membuat gambar realistis tanpa proses produksi foto sebenarnya sehingga meningkatkan risiko penyebaran disinformasi.
Cek Fakta RI menilai manipulasi visual kini menjadi strategi baru dalam membentuk opini publik melalui pendekatan emosional dan provokatif.
Fenomena ini bukan pertama kali terjadi karena berbagai laporan media arus utama sebelumnya juga menyoroti meningkatnya hoaks berbasis deepfake menjelang momentum politik.