NEWS SUMMARY
- Cuaca ekstrem disertai hujan lebat melanda sejumlah wilayah Jawa Timur, memicu kerusakan rumah dan fasilitas umum.
- BNPB mencatat bencana hidrometeorologi basah meningkat hingga awal November 2025, berdampak pada ribuan warga.
- Abdul Muhari, Ph.D. mengimbau peningkatan kewaspadaan, mitigasi dini, dan gotong royong menjaga lingkungan.
24JAMNEWS.COM - Apakah hujan deras dan angin kencang belakangan ini sekadar cuaca buruk biasa.
Atau pertanda meningkatnya ancaman bencana hidrometeorologi yang bisa mengguncang kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan ini makin mendesak seiring munculnya laporan kerusakan di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Ignasius Jonan Bertemu Presiden Prabowo Subianto Selama 2 Jam di Istana, Tak Bahas Whoosh
Cuaca Ekstrem Melanda Beberapa Wilayah Jawa Timur
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa hingga Selasa (4/11/2025) pukul 07.00 WIB, kejadian bencana hidrometeorologi basah mendominasi laporan di berbagai daerah.
Di Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur, cuaca ekstrem disertai hujan lebat melanda lima desa dan satu kelurahan dalam empat kecamatan.
Kerusakan tercatat pada sembilan rumah, satu fasilitas pendidikan, dan satu tempat ibadah.
Baca Juga: Harga Beras Turun di 23 Provinsi, Badan Pusat Statistik Catat Deflasi Dua Bulan Beruntun
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat sudah membantu warga terdampak.
Angin Kencang Rusak Rumah di Nganjuk, Banyuwangi, Malang
Di Kabupaten Nganjuk pada Minggu (2/11/2025) pukul 13.30 WIB angin kencang menerjang Desa Sidoharjo, Kecamatan Tanjunganom, merusak delapan rumah—dua rusak berat, dua rusak sedang, empat rusak ringan.
Di Banyuwangi sekitar pukul 14.00 WIB angin kencang menyerang Desa Seneporejo dan Desa Tulungrejo, merusak 27 rumah ringan.
Baca Juga: Market Cap BEI Turun 2,47 Persen Jadi Rp14.857 Triliun, Indeks Harga Saham Ditutup 8.163
Di Kabupaten Malang saat yang sama, Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau terdampak dengan sembilan rumah rusak berat, 14 rusak sedang, dan 89 rusak ringan; tidak ada laporan korban jiwa atau pengungsian.
Artikel Terkait
Market Cap BEI Turun 2,47 Persen Jadi Rp14.857 Triliun, Indeks Harga Saham Ditutup 8.163
Harga Batu Bara Turun Sebanyak 18 Persen, Namun Bumi Resources Tetap Kantongi Laba Positif
Pasar Kripto Konsolidasi Usai Keputusan The Fed dan Pertemuan Donald Trump - Xi Jinping
Hasto Ungkap Megawati Sudah Ingatkan Jokowi Soal Prioritas Rakyat Sebelum Whoosh Dimulai
Dua Korporasi Tambah Emisi Sebesar Rp4 Triliun, BEI Bukukan 151 Obligasi dan Sukuk
Proyek IKN Disebut Tanpa Dasar Hukum Daerah, Anthony Budiawan Soroti Masalah Otorita
BEI dan S&P Dow Jones Luncurkan 3 Indeks Baru untuk Perkuat Pasar Modal Indonesia
Harga Beras Turun di 23 Provinsi, Badan Pusat Statistik Catat Deflasi Dua Bulan Beruntun
Ignasius Jonan Bertemu Presiden Prabowo Subianto Selama 2 Jam di Istana, Tak Bahas Whoosh
5 Wilayah Jawa Timur Dilanda Cuaca Ekstrem, 112 Rumah Rusak Akibat Angin Kencang