NEWS SUMMARY:
- Akbar Faizal dan Agus Pambagio menyoroti skema B2B proyek Whoosh.
- Peralihan dari Jepang ke Tiongkok ubah struktur utang dan risiko proyek.
- Pemerintah diminta evaluasi agar proyek infrastruktur lebih efisien.
24JAMNEWS.COM - Apakah proyek kebanggaan nasional yang digadang sebagai simbol kemajuan teknologi kini justru menjadi beban fiskal jangka panjang bagi rakyat Indonesia?
Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh kembali memicu perdebatan publik setelah muncul pernyataan dari sejumlah tokoh mengenai pembiayaan dan model bisnis yang digunakan.
Politisi Akbar Faizal menyoroti pandangan ekonom Faisal Basri yang memperkirakan masa balik modal proyek tersebut bisa mencapai lebih dari tiga dekade.
Baca Juga: Indonesia Political Review: 3 Menteri Kabinet Merah Putih Raih Kepuasan Publik yang Tinggi
Dengan masa pengembalian sekitar 33 tahun, proyek yang awalnya digadang sebagai investasi strategis ini dinilai berpotensi membebani keuangan negara di masa mendatang.
Dalam siniar YouTube Akbar Faizal Uncensored pada Minggu, 19 Oktober 2025, Akbar menyebut perlunya kejelasan siapa yang paling bertanggung jawab terhadap arah dan keputusan politik proyek ini.
Skema Pendanaan dari Jepang Ke Tiongkok dan Perubahan Model Bisnis
Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menjelaskan bahwa awalnya Jepang menawarkan pinjaman dengan bunga 0,1 persen menggunakan sistem antar pemerintah (government to government).
Baca Juga: Mahfud MD Nilai KPK Aneh Soal Dugaan Mark Up Proyek Kereta Whoosh Rp113 Triliun
Namun, Presiden Joko Widodo pada 2014–2015 memilih untuk meneruskan proyek melalui Kementerian BUMN yang kemudian bekerja sama dengan investor asal Tiongkok.
“Presiden yang meminta Bu Rini (Soemarno) untuk meneruskan ke Tiongkok karena Jonan tidak bersedia,” ujar Agus Pambagio dalam siniar yang sama.
Keputusan tersebut membuat proyek beralih dari skema G2G menjadi business to business (B2B), yang berarti tanggung jawab pembiayaan dialihkan ke korporasi tanpa jaminan langsung dari negara.
Baca Juga: 5 Keuntungan Utama Menjadi Mitra Promedia Teknologi dengan Portal Berita Profesional
Dampak Skema B2B Terhadap Keuangan dan Risiko Investasi
Menurut Agus Pambagio, perubahan skema pendanaan tersebut membawa konsekuensi besar terhadap struktur pembiayaan dan risiko investasi proyek Whoosh.
Artikel Terkait
Skandal Energi Terbesar 2025: Sebesar Rp 285 Triliun Hilang dari Skandal Solar Murah
E10 Segera Diterapkan: Strategi Pemerintah Tekan Impor Minyak Nasional
1.000 Bendera, Ribuan Langkah: CFD Jakarta Wujudkan Solidaritas untuk Palestina
5 Fakta Ilmiah Olahraga Rutin Turunkan Risiko Penyakit Jantung Hingga 31 Persen
Pengaduan Masyarakat Dugaan Korupsi Kereta Cepat Jakarta Bandung: KPK Wajib Usut Tuntas
Rp9,41 Triliun Menguap dari Solar Non-Subsidi, Ini Kronologi Dakwaan Pertamina
5 Keuntungan Utama Menjadi Mitra Promedia Teknologi dengan Portal Berita Profesional
Mahfud MD Nilai KPK Aneh Soal Dugaan Mark Up Proyek Kereta Whoosh Rp113 Triliun
Indonesia Political Review: 3 Menteri Kabinet Merah Putih Raih Kepuasan Publik yang Tinggi
33 Tahun Balik Modal: Mengurai Beban Bberat Utang Proyek Kereta Cepat Whoosh