• Sabtu, 18 April 2026

Dari Jepang ke Tiongkok, Skema B2B Proyek Kereta Cepat Whoosh Dinilai Berisiko

Photo Author
Budi Purnomo, 24jamnews.com
- Senin, 20 Oktober 2025 | 16:00 WIB
Transparansi Dipertanyakan, Begini Akar Masalah Proyek Kereta Cepat Whoosh B2B (Dok. kcic.co.id)
Transparansi Dipertanyakan, Begini Akar Masalah Proyek Kereta Cepat Whoosh B2B (Dok. kcic.co.id)

NEWS SUMMARY:

  • Akbar Faizal dan Agus Pambagio menyoroti skema B2B proyek Whoosh.
  • Peralihan dari Jepang ke Tiongkok ubah struktur utang dan risiko proyek.
  • Pemerintah diminta evaluasi agar proyek infrastruktur lebih efisien.

24JAMNEWS.COM - Apakah proyek kebanggaan nasional yang digadang sebagai simbol kemajuan teknologi kini justru menjadi beban fiskal jangka panjang bagi rakyat Indonesia?

Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh kembali memicu perdebatan publik setelah muncul pernyataan dari sejumlah tokoh mengenai pembiayaan dan model bisnis yang digunakan.

Politisi Akbar Faizal menyoroti pandangan ekonom Faisal Basri yang memperkirakan masa balik modal proyek tersebut bisa mencapai lebih dari tiga dekade.

Baca Juga: Indonesia Political Review: 3 Menteri Kabinet Merah Putih Raih Kepuasan Publik yang Tinggi

Dengan masa pengembalian sekitar 33 tahun, proyek yang awalnya digadang sebagai investasi strategis ini dinilai berpotensi membebani keuangan negara di masa mendatang.

Dalam siniar YouTube Akbar Faizal Uncensored pada Minggu, 19 Oktober 2025, Akbar menyebut perlunya kejelasan siapa yang paling bertanggung jawab terhadap arah dan keputusan politik proyek ini.

Skema Pendanaan dari Jepang Ke Tiongkok dan Perubahan Model Bisnis

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menjelaskan bahwa awalnya Jepang menawarkan pinjaman dengan bunga 0,1 persen menggunakan sistem antar pemerintah (government to government).

Baca Juga: Mahfud MD Nilai KPK Aneh Soal Dugaan Mark Up Proyek Kereta Whoosh Rp113 Triliun

Namun, Presiden Joko Widodo pada 2014–2015 memilih untuk meneruskan proyek melalui Kementerian BUMN yang kemudian bekerja sama dengan investor asal Tiongkok.

“Presiden yang meminta Bu Rini (Soemarno) untuk meneruskan ke Tiongkok karena Jonan tidak bersedia,” ujar Agus Pambagio dalam siniar yang sama.

Keputusan tersebut membuat proyek beralih dari skema G2G menjadi business to business (B2B), yang berarti tanggung jawab pembiayaan dialihkan ke korporasi tanpa jaminan langsung dari negara.

Baca Juga: 5 Keuntungan Utama Menjadi Mitra Promedia Teknologi dengan Portal Berita Profesional

Dampak Skema B2B Terhadap Keuangan dan Risiko Investasi

Menurut Agus Pambagio, perubahan skema pendanaan tersebut membawa konsekuensi besar terhadap struktur pembiayaan dan risiko investasi proyek Whoosh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X