NEWS SUMMARY:
- OJK bertemu Moody’s usai outlook lima bank besar Indonesia turun menjadi negatif, namun regulator menegaskan fundamental perbankan tetap kuat.
- Pertemuan melibatkan OJK dan KSSK untuk menjelaskan data stabilitas keuangan nasional agar persepsi global terhadap sektor perbankan tetap terjaga.
- Moody’s mempertahankan peringkat kredit lima bank besar meski outlook negatif, sehingga risiko sistemik perbankan Indonesia dinilai masih terkendali.
24JAMNEWS.COM - Mengapa Moody’s mengubah outlook lima bank terbesar Indonesia di tengah kondisi perbankan yang disebut tetap solid oleh regulator nasional?
Seberapa besar dampak perubahan outlook global terhadap kepercayaan investor dan stabilitas sektor keuangan Indonesia dalam jangka menengah mendatang?
Penurunan Outlook Moody’s Picu Dialog Regulator dan Lembaga Global
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana bertemu Moody’s Investors Service untuk membahas perubahan outlook lima bank besar Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya klarifikasi agar persepsi lembaga pemeringkat global selaras dengan kondisi fundamental sektor perbankan nasional.
Pertemuan tersebut juga melibatkan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjelaskan situasi stabilitas keuangan nasional secara menyeluruh.
Daftar Bank Besar Terdampak Outlook Negatif Moody’s Terbaru
Moody’s menurunkan outlook PT Bank Mandiri Persero Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk.
PT Bank Central Asia Tbk serta PT Bank Tabungan Negara Persero Tbk juga masuk daftar bank yang mengalami perubahan outlook menjadi negatif.
Meski demikian, Moody’s mempertahankan peringkat kredit masing-masing bank sehingga profil kelayakan kredit dinilai masih kuat dan stabil.
OJK Sebut Penurunan Outlook Bukan Cerminan Kinerja Bank
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut perubahan outlook tidak mencerminkan pelemahan kinerja individual bank.
Ia menjelaskan faktor utama penyesuaian berasal dari perubahan outlook Indonesia secara keseluruhan yang mempengaruhi penilaian lembaga pemeringkat global.
Artikel Terkait
Pengadaan EDC BRI Rp2,2 Triliun Diselidiki, KPK Diminta Tegas Beri Kepastian Hukum Saksi Finnet
Data Sitaan Fantastis Kasus Bea Cukai, Dari Emas Valas Hingga Uang Tunai Miliaran Rupiah
Kajian KPK Tentang Nikel Soroti Risiko Korupsi Dari Tambang Hingga Ekspor Yang Perlu Pembenahan
KPK Periksa Keterkaitan 12 Korporasi dalam Kasus Suap Restitusi Pajak Pejabat KPP Madya
PM Anthony Albanese Bela Undangan untuk Isaac Herzog Meski Ribuan Demonstran Australia Turun
Batas Saham 20 Persen Bagi Asuransi dan Dana Pensiun Perlu Governance Kuat dan Manajemen Risiko
Pinjaman Inggris vs APBN, Kemenkeu dan Trenggono Klarifikasi Publik Soal Anggaran Kapal KKP
PDB Masih 10 Persen, Wadirut MIND ID Soroti Potensi Tambang untuk Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Prabowo Dikabarkan Pegang Data Jenderal Tambang Ilegal, Sinyal Peringatan Sebelum Penindakan Hukum
Dukungan Dini Prabowo Dua Periode 2029, 3 Tantangan Matahari Kembar dalam Soliditas Koalisi Pemerintah