NEWS SUMMARY:
- Penguatan Wall Street dipicu de-eskalasi konflik, namun tidak sepenuhnya menular ke Indonesia
- Pasar memasuki fase selektif, sektor komoditas dan berbasis dolar lebih tahan tekanan
- Pasar saham global beralih ke fase risk-on rapuh, belum didukung likuiditas global kuat
24JAMNEWS.COM - Mengapa pasar saham Indonesia tidak ikut melonjak saat sentimen global membaik?
Apakah ini tanda awal tekanan ekonomi yang lebih dalam bagi investor dan pelaku pasar domestik?
Reli Global Tidak Sepenuhnya Menular ke Pasar Domestik Indonesia
Pasar global menunjukkan penguatan sepanjang pekan kedua April 2026 seiring meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Harga Energi Global Naik, DPR Nilai Subsidi BBM Masih Penting Jaga Ekonomi Dan Daya Beli
Namun, IHSG hanya mencatat kenaikan terbatas ke level 7.307,59, menunjukkan respons domestik yang tidak sejalan dengan tren global.
Kusfiardi menilai kondisi ini mencerminkan perbedaan persepsi risiko antara investor global terhadap pasar maju dan berkembang.
“Meskipun global risk-on, pasar domestik belum sepenuhnya ikut karena tekanan likuiditas masih kuat,” ujarnya.
Baca Juga: Ma’ruf Amin Ungkap Penyebab Gagalnya Diplomasi Amerika Serikat Iran dan Dampaknya Bagi Indonesia
Fenomena ini memperlihatkan bahwa pemulihan global belum otomatis berdampak positif bagi Indonesia.
Arus Modal Keluar dan Penguatan Dolar AS Jadi Faktor Dominan
Rupiah yang melemah hingga Rp17.090 per Dolar AS menjadi indikator kuat adanya tekanan arus modal keluar.
Kusfiardi menegaskan bahwa penguatan Dolar AS dan tingginya yield global menjadi magnet bagi investor untuk keluar dari emerging markets.
Baca Juga: Rokok Ilegal Diberi Kesempatan Masuk Pasar Legal, Targetkan Dampak Signifikan Penerimaan Negara
“Likuiditas global tersedot ke aset berbasis dolar sehingga pasar domestik kehilangan momentum,” jelasnya.
Kondisi ini membuat ruang kenaikan IHSG menjadi terbatas meskipun sentimen global terlihat membaik.