NEWS SUMMARY
- Kampung Adat Banceuy di Subang lahir dari musyawarah tujuh karuhun setelah bencana besar pada awal 1800-an dan menjadi simbol pelestarian adat Sunda.
- Tradisi Ruwatan Bumi setiap tahun menjadi sarana warga Banceuy bersyukur kepada Tuhan serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
- Pemerintah daerah menetapkan Banceuy sebagai kampung adat resmi Jawa Barat dan destinasi budaya unggulan di bawah program Subang Creative Culture 2025.
24JAMNEWS.COM - Apakah sebuah musibah bisa melahirkan peradaban baru? Di Subang, Jawa Barat, kisah ini bukan sekadar legenda.
Dari bencana angin puting beliung dua abad silam, lahirlah Kampung Adat Banceuy — permukiman yang hingga kini menjadi penjaga nilai musyawarah dan warisan karuhun Sunda.
Terletak di Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Kampung Adat Banceuy merupakan satu-satunya kampung adat yang masih aktif di wilayah tersebut.
Baca Juga: Menjelang RUPSLB Tahun 2025, Saham BBRI Naik 0,8 Persen Jelang Agenda Penting
Menurut catatan sejarah lisan warga, asal usulnya dapat ditelusuri ke awal 1800-an ketika wilayah ini masih dikenal dengan nama Kampung Negla, singkatan dari Neunggang jeung Lega yang berarti “tinggi dan terbuka.”
Kampung ini didirikan oleh tujuh karuhun atau leluhur yang dikenal sakti dan bijak, yaitu Eyang Ito, Aki Leutik, Eyang Malim, Aki Alman, Eyang Ono, Aki Uti, dan Aki Arsiam.
Salah satu di antaranya, Aki Leutik, dipercaya berasal dari Sumedang dan memiliki peran penting dalam penyebaran nilai-nilai kearifan lokal.
Baca Juga: Presiden Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan 8 Tokoh Lain
Musibah Alam dan Musyawarah Leluhur yang Mengubah Nama Kampung
Sekitar dua abad lalu, Kampung Negla dilanda angin puting beliung Baca Juga: Menuju Pertanian 5.0: Wamentan Sudaryono Terapkan Teknologi AI Untuk Produktivitas Nasionalbesar yang merusak hampir seluruh rumah warga.
Setelah bencana itu, ketujuh karuhun menggelar musyawarah besar — dalam bahasa Sunda disebut Ngabanceuy — untuk mencari cara melindungi kampung dari malapetaka serupa.
Dari hasil musyawarah itu disepakati tiga keputusan penting: kepemimpinan kampung diwariskan kepada keturunan Aki Ito, diadakannya Ruwatan Bumi setiap tahun.
Baca Juga: Satgas PKH Halilintar Tertibkan Tambang Ilegal 315,48 Hektare, Negara Rugi Rp 12,9 Triliun
Dan penggantian nama kampung menjadi Banceuy — diambil dari kata Ngabanceuy yang berarti musyawarah untuk keselamatan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan 8 Tokoh Lain
RUPSLB BRI Akhir Tahun 2025: 10 Direksi Baru, Ada Pergantian Lagi? atau Evaluasi Strategi?
Menjelang RUPSLB Tahun 2025, Saham BBRI Naik 0,8 Persen Jelang Agenda Penting
Tiga Nama Akhirnya Batal Menjadi Komisaris dan Direktur Bank BJB, Ini Keputusan OJK
1.000 Rumah Layak Huni: Komitmen Sosial Astra Wujudkan SDGs Indonesia
Menuju Pertanian 5.0: Wamentan Sudaryono Terapkan Teknologi AI Untuk Produktivitas Nasional
KPK Selidiki Dugaan Penjualan Tanah Negara di Proyek Whoosh Senilai Triliunan Rupiah
60 Persen Warga Banyuwangi Masih Gunakan Bahasa Osing, Warisan Blambangan Hidup Kembali
15 Tahun Berselang, Prediksi SBY tentang Ekonomi Indonesia 2025 Kini Jadi Fakta
Satgas PKH Halilintar Tertibkan Tambang Ilegal 315,48 Hektare, Negara Rugi Rp 12,9 Triliun