- Pengamat mengingatkan Purbaya Yudhi Sadewa agar tidak terjebak politisasi jabatan di tengah lonjakan popularitas awalnya sebagai Menteri Keuangan.
- Purbaya diminta menjaga dukungan kelas menengah dan fokus sebagai teknokrat agar tidak mengulangi dinamika politik yang pernah dialami Sri Mulyani.
- Perbandingan gaya pengelolaan fiskal dan tantangan kebijakan menjadi sorotan publik, termasuk risiko defisit dan tekanan anggaran negara.
24JAMNEWS.COM - Bisakah lonjakan popularitas Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan berubah jadi jebakan politik, sama seperti yang pernah dialami Sri Mulyani?
Pengamat keuangan Yanuar Rizky menyoroti bahwa awal masa jabatan Purbaya sangat mirip dengan fase pertama Sri Mulyani ketika bergabung ke kabinet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Menurut Yanuar, sambutan hangat dan tepuk tangan publik saat pelantikan Purbaya mencerminkan pola yang pernah dialami Sri Mulyani ketika menggantikan Yusuf Anwar pada 2005.
Baca Juga: Apakah Redenominasi Rp1000 ke Rp1 Mendesak? Analisis Wewenang, Data BI, dan Kekhawatiran Publik
Ia memperingatkan bahwa popularitas awal bukan jaminan stabilitas jangka panjang, seperti sejarah perjalanan Sri Mulyani.
Peringatan Penting Tentang Hubungan Purbaya dengan Kelas Menengah Publik
Yanuar mengingatkan Purbaya agar menjaga hubungan erat dengan kelas menengah, yang menurutnya punya peran kunci dalam menjaga dukungan politik dan masyarakat.
“Kelas menengah yang sangat mendukung di awal, bisa jadi yang sama menolak di kemudian hari,” kata Yanuar dalam sebuah podcast.
Baca Juga: 660 Jiwa Mengungsi Akibat Longsor Banjarnegara, 3 Warga Terluka dan 30 Rumah Rusak
Jika Purbaya gagal membangun stabilitas dukungan berkelanjutan, Yanuar khawatir nasibnya bisa bersejarah layaknya beberapa tokoh publik sebelumnya.
Dampak Potensial Jika Dukungan Publik Melemah
Kehilangan dukungan dari kelas menengah dapat menimbulkan risiko legitimasi terhadap kebijakan fiskal dan anggaran yang digulirkan Purbaya.
Stabilitas sosial-politik bisa terganggu jika publik yang merasa dikhianati melancarkan kritik keras, sebagaimana pernah terjadi di era Sri Mulyani.
Baca Juga: Bagaimana Tata Ruang Tiga Zona Menjaga Kebersihan Penglipuran Selama Puluhan Tahun?
Selektif dalam menjaga kepercayaan publik akan menjadi ujian besar bagi pemegang jabatan Menkeu baru agar bisa mempertahankan wibawa.
Pesan untuk Kabinet Ahli Tanpa Politisasi
Yanuar juga menyerukan agar Purbaya dipertahankan sebagai tokoh teknokrat, bukan dipolitisasi menjadi figur populer atau calon wakil presiden.
Ia melihat “zaken kabinet” kabinet berisi menteri ahli sebagai model ideal: menteri bekerja karena kompetensi, bukan ambisi politik.
Artikel Terkait
Dengan 14.000 Pohon, Selayar Jadi Pusat Benih Kelapa untuk Dukung Hilirisasi Bernilai Triliunan
Data Ekonomi Tertunda: Mengapa Bitcoin Tetap Melemah Meski Pemerintahan AS Aktif?
Ini 5 Pertimbangan Sekolah dan Polisi Terkait PJJ dan Pemeriksaan Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta
Dua Klaim Tahta Keraton Solo: Data, Fakta, dan Dampaknya Pada Stabilitas Budaya 2025
OMC Digelar, Alat Berat Ditambah: Begini Fakta Terbaru Pencarian 10 Korban Longsor Cilacap
Penimbunan 42 Ton BBM Subsidi Terbongkar di Belinyu: Polisi Sita Truk Modifikasi & 5 Terduga Pelaku
Dua Anggota DPR Jadi Tersangka, KPK Kejar Keterangan Wela Arista dalam Kasus CSR BI-OJK
Bagaimana Tata Ruang Tiga Zona Menjaga Kebersihan Penglipuran Selama Puluhan Tahun?
660 Jiwa Mengungsi Akibat Longsor Banjarnegara, 3 Warga Terluka dan 30 Rumah Rusak
Apakah Redenominasi Rp1000 ke Rp1 Mendesak? Analisis Wewenang, Data BI, dan Kekhawatiran Publik