NEWS SUMMARY:
- Presiden Prabowo menyoroti dana pemda Rp203 triliun yang masih mengendap dan meminta penjelasan Mendagri dalam rapat terbatas di Istana.
- Rata-rata serapan belanja daerah baru 68 persen sementara pendapatan sudah 83 persen per 23 November 2025.
- Mendagri menjelaskan dana mengendap karena transisi kepala daerah baru, pembayaran proyek akhir tahun, dan persiapan gaji Januari.
24JAMNEWS.COM - Bagaimana pergantian Kepala Daerah dapat membuat ratusan triliun rupiah dana publik tertahan dan tidak segera mengalir ke masyarakat?
Dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (24/11/2025), Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan alasan dana pemerintah daerah senilai Rp 203 triliun masih mengendap di bank.
Mendagri Tito Karnavian menyampaikan bahwa banyak kepala daerah baru dilantik pada Februari 2025.
Baca Juga: Mahfud MD Paparkan 30 Tahun Kemerosotan Demokrasi Disertai Lonjakan Korupsi dari Miliar ke Triliunan
Sehingga proses penyusunan kepala dinas dan pejabat teknis memerlukan waktu yang membuat pelaksanaan belanja tertunda.
Tito menjelaskan bahwa pergantian pejabat memengaruhi stabilitas perencanaan program sehingga sejumlah pengadaan harus ditinjau ulang sesuai arah kebijakan kepala daerah yang baru.
Proses tersebut dinilai umum terjadi pada tahun politik ketika jadwal penyerapan anggaran relatif padat dan rawan perubahan struktur organisasi perangkat daerah.
Baca Juga: Impor Baju Bekas Ilegal Tembus 1.800 Jalur Tikus, Ekonom Desak Regulasi Baru Pemerintah
Kesiapan Pembayaran Proyek dan Gaji Awal Tahun Menjadi Alasan Lain
Menurut Tito, sebagian daerah tengah menahan anggaran untuk membayar kontrak proyek yang rampung pada bulan Desember sehingga dana harus dicadangkan untuk menghindari tunggakan.
Ia menegaskan pemda juga perlu mempersiapkan gaji pegawai dan biaya operasional Januari karena transfer pusat kemungkinan cair setelah tanggal 10.
Sehingga dana cadangan diperlukan untuk memastikan layanan publik tetap berjalan.
Pemerintah pusat mengingatkan pemda agar tidak menunda eksekusi belanja yang sudah siap agar tidak berdampak pada masyarakat yang membutuhkan layanan dan pekerjaan.
Baca Juga: DPR Soroti Impor Kedelai 2,6 Juta Ton dan Mendesak Pemerintah Prioritaskan Komoditas Strategis
Artikel Terkait
Fatwa Baru MUI Soroti Lonjakan PBB: Pemerintah Diminta Evaluasi Pajak yang Bebani Rumah Tangga
Kerugian Negara Dinilai dengan Harga Besi Tua: Praktik Ini Berbahaya bagi Kepastian Ekonomi Nasional
ESDM Akui Ada Perwira Bintang 3: Dampak Putusan MK Mulai Dihitung KemenPANRB dan Mendagri
Triliunan Rupiah Hilang, Buronan Mohammad Riza Chalid Diduga Kunci Korupsi Minyak Petral
Menyusuri Jejak Letusan Gunung Galunggung 1982: Dari Lahar Panas Hingga Danau Kawah Hijau
Kasus 250 Ton Beras Ilegal Sabang, Mentan Tegaskan Dirjen Dapat Dicopot Jika Abaikan Arahan Presiden
DPR Ingatkan Kebutuhan 2,9 Juta Ton Kedelai per Tahun dan Minta Kementan Segera Tekan Impor
Mahfud MD Ungkap 5 Tanda Demokrasi Mulai Menyimpang dan Korupsi Kian Menggurita Pasca Reformasi
Pemerintah Siapkan Denda Berat dan Blacklist Seumur Hidup Bagi Importir Baju Bekas Ilegal
Data 194 Juta Warga Berpenghasilan di Bawah Rp1,5 Juta Picu Lonjakan Pasar Baju Bekas