NEWS SUMMARY:
- IHSG menembus rekor tertinggi 8.602 disertai penguatan 0,94% yang mencerminkan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
- Menkeu Purbaya menyambut capaian tersebut dengan seruan “to the moon” dan menilai optimisme investor semakin kuat.
- Pemerintah menegaskan kenaikan indeks terjadi merata dan mendorong penindakan saham gorengan demi menjaga stabilitas pasar.
24JAMNEWS.COM - Apakah lonjakan IHSG ke rekor tertinggi benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi yang sehat — atau hanya euforia sementara yang rawan koreksi?
Pada penutupan perdagangan 26 November 2025, IHSG mencatat rekor tertinggi di level 8.602,13, melonjak 0,94 persen dari hari sebelumnya.
Volume transaksi harian tembus sekitar Rp 26,7 triliun.
Baca Juga: 4 Pilar Strategis Kompas100 CEO Forum 2025 untuk Ketahanan Ekonomi di Tengah Gejolak Global
Istilah “To The Moon” Picu Antusias — Tapi…
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bereaksi dengan penuh antusiasme, melontarkan “to the moon, to the moon!” saat merespons kabar rekor IHSG.
Pernyataan ini memicu persepsi bahwa pasar saham Indonesia memasuki fase “bullish” jangka panjang.
Namun bisa juga memancing ekspektasi berlebihan di kalangan investor ritel.
Baca Juga: Temuan Anomali Bandara IMIP: Menhan Soroti Absennya Aparat Negara di Fasilitas Strategis
Saham Gorengan Jadi Sorotan Walau Korporasi Disanjung
Purbaya sendiri mengakui keberadaan saham gorengan dalam pergerakan pasar.
Namun menyebut bahwa kenaikan tidak hanya didorong oleh spekulasi — mayoritas saham ikut menguat.
Meski demikian, risiko koreksi tetap ada apabila ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional tidak sesuai kenyataan.
Baca Juga: Prabowo Targetkan 1 MW PLTS per Desa, Pemerintah Percepat Eksekusi dan Penertiban Tambang Ilegal
Pertumbuhan Ekonomi Masih Jadi PR Pemerintah
Meskipun IHSG melesat, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum menunjukkan percepatan signifikan.
Artikel Terkait
Kematian Orangutan Picu Penangkapan 12 Penambang Emas Ilegal di Kawasan TN Tanjung Puting
Data Baru: Bandara IMIP Beroperasi Sejak 2019 Tanpa Perangkat Negara, Apa Dampaknya?
Strategi 3 Sektor Industri: Cara Pemerintah Menahan Dampak Overcapacity Tiongkok
Proyeksi 15 Tahun Jadi Acuan: Pemerintah Susun Data Pembayaran Utang Whoosh untuk Negosiasi
5 Fakta Pemecatan Gus Yahya oleh Syuriyah PBNU yang Memicu Gejolak Internal Nahdlatul Ulama
Setelah 72 Jam Ultimatum, Syuriyah PBNU Resmi Copot Gus Yahya: Ini Dasar Keputusan dan Dampaknya
80 Ribu Desa Disiapkan PLTS 1 MW, Prabowo Tegaskan Penertiban Tambang Tanpa IPPKH Secara Terpadu
1–1,5 MW PLTS per Desa: Bahlil Laporkan Tahap Akhir Teknis, Prabowo Minta Tindak Tambang Ilegal
Menhan Bongkar Operasi Bandara Tanpa Imigrasi dan Bea Cukai: 3 Risiko Besar Kedaulatan Ekonomi
16th Kompas100 CEO Forum Rumuskan 4 Agenda Besar Perkuat Daya Saing Menuju Indonesia Emas 2045