NEWS SUMMARY:
- Syuriyah PBNU resmi memberhentikan Gus Yahya setelah kontroversi undangan akademikus pro-Israel dan temuan masalah tata kelola aset organisasi.
- Risalah Syuriyah menilai tindakan Gus Yahya melanggar nilai organisasi dan membahayakan legitimasi serta keberlanjutan struktur PBNU.
- Keputusan ini memicu perbedaan sikap antara Syuriyah dan Tanfidziyah, memunculkan krisis kepemimpinan dan tuntutan konsolidasi ulama.
24JAMNEWS.COM - Bisakah sebuah undangan acara memicu pertarungan visi dan memecah kesatuan organisasi tertua di Indonesia?
Undangan kepada Peter Berkowitz — akademikus asal AS dengan pandangan pro-Zionis — dalam acara internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dianggap sebagai tindakan inkonsisten dengan komitmen historis organisasi terhadap Palestina.
Insiden ini memantik reaksi keras dari jajaran tertinggi organisasi, terutama Syuriyah PBNU, yang menyebutnya sebagai pelanggaran nilai dasar Ahlussunnah wal Jamaah.
Baca Juga: Pertumbuhan Manufaktur 5,54 Persen: Pemerintah Siapkan 3 Kebijakan Besar Sektor Industri
Permintaan Maaf Tak Cukup Redakan Kontroversi
Gus Yahya mengakui kesalahan, menyebut undangan itu sebagai kekhilafan akibat kurang cermat dalam menyeleksi narasumber.
Meski demikian, Syuriyah menilai bahwa dampak reputasi dan potensi gesekan dengan basis Nahdliyin jauh lebih besar.
Sehingga meminta pengunduran diri atau pemberhentian.
Baca Juga: Angka dan Fakta Operasional Bandara IMIP: Tanpa Airnav, Tanpa Imigrasi, Tanpa Bea Cukai
Tuduhan Ganda: Aset, Keuangan, dan Otoritas Struktural
Selain aspek ideologi, Syuriyah juga menuding terdapat manajemen keuangan.
Dan aset PBNU yang bermasalah — pelanggaran terhadap hukum Islam, regulasi nasional, dan AD/ART NU.
Lebih lanjut, Gus Yahya dianggap telah melampaui kewenangannya sebagai Ketua Umum Tanfidziyah ketika mengambil keputusan besar tanpa persetujuan Syuriyah.
Baca Juga: Angka dan Fakta Operasional Bandara IMIP: Tanpa Airnav, Tanpa Imigrasi, Tanpa Bea Cukai
Krisis Kepemimpinan Memunculkan Pecah Suara Internal
Keputusan Syuriyah untuk memecat Gus Yahya memunculkan perpecahan nyata.
Artikel Terkait
Mengapa Dana Rp203 Triliun Masih Parkir di Bank? Presiden Prabowo Minta Jawaban Pemda
Soal Redenominasi: Ekonom Ingatkan Dampak ke Daya Beli Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Hubungan Ekonomi Naik 30 Persen: Pemerintah Tambah Wakil Dubes RI di Beijing untuk Percepat Diplomasi
Data Resmi 2025: Stok Rekor Nasional Tak Hentikan Upaya Masuknya 40,4 Ton Beras Ilegal
Minus 8 Persen: Kontraksi Ekonomi Papua Tengah Setelah Ekspor Freeport Indonesia Tersendat
Operasi Amankan 12 Pelaku PETI di Tanjung Puting Setelah Temuan Orangutan Tewas di Camp Leakey
5 Celah Pengawasan Negara di Bandara Industri Morowali yang Jadi Sorotan Pemerintah
Tahun 2025: Tiga Sektor Industri Prioritas Diperkuat di Tengah Serbuan Impor Murah
Tim Advance Berangkat ke Tiongkok: 3 Agenda Dibahas dalam Restrukturisasi Utang Whoosh
3 Temuan yang Membuat Syuriyah PBNU Berhentikan Gus Yahya di Tengah Krisis Legitimasi Organisasi