NEWS SUMMARY:
- Curah hujan ekstrem akibat Bibit Siklon 95B dan MCC memicu banjir serta longsor di beberapa wilayah Sumatera menurut BMKG dan Badan Geologi.
- Geomorfologi curam dan litologi lapuk memperparah kerentanan bencana di Humbang Hasundutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.
- Kota Sibolga dan beberapa wilayah Sumatera Utara masuk zona potensi gerakan tanah menengah–tinggi yang perlu kewaspadaan tinggi.
24JAMNEWS.COM - Mengapa banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatera meski berbagai peringatan cuaca telah disampaikan sejak awal pekan?
Pertanyaan ini mencuat di tengah meningkatnya bencana hidrometeorologi yang menimbulkan kerusakan dan korban, memicu tuntutan evaluasi sistem mitigasi
Badan Geologi Kementerian ESDM menyampaikan bahwa banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera dipicu tiga faktor utama dengan curah hujan ekstrem sebagai pemicu dominan.
Baca Juga: Mahfud Kritik Arah Organisasi PBNU, Ungkap Kaitan Konflik dengan Proyek Tambang dan Perubahan Nilai
Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa intensitas hujan yang meningkat tajam berlangsung sejak akhir pekan dan berdampak pada wilayah Humbang Hasundutan, Agam, Mandailing Natal, Gayo Lues, hingga Aceh Tenggara.
Wilayah tersebut berada pada bentang alam perbukitan curam dengan karakter litologi lapuk sehingga memperbesar kerentanan ketika hujan ekstrem terjadi secara tiba-tiba.
Faktor Geologi Memperparah Dampak Banjir dan Longsor di Sumatera
Badan Geologi menjelaskan bahwa struktur geomorfologi curam hingga sangat curam membuat air hujan lebih cepat mengalir dan membawa material lapuk.
Baca Juga: Dedi Umumkan Rencana Moratorium Penebangan Hutan, Soroti Dampak Lingkungan dan Musibah
Litologi yang mudah tererosi menyebabkan longsor lebih mudah terjadi saat volume air meningkat dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut juga terjadi di beberapa wilayah Sumatera Utara seperti Kota Sibolga yang berada di zona potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi.
Fenomena Atmosfer Pemicu Curah Hujan Sangat Tinggi Terpantau BMKG
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan cuaca ekstrem dipicu perkembangan Bibit Siklon Tropis 95B di Samudra Hindia.
Baca Juga: Mengapa Investasi di Kawasan IMIP Morowali Tetap Kuat Meski Tanpa Status Bandara Internasional?
BMKG juga mendeteksi Meso Siklon Konvektif Kompleks (MCC) yang memicu pembentukan awan konvektif skala luas dan hujan berintensitas sangat tinggi.
BMKG menegaskan bahwa fenomena atmosfer tersebut masih berpotensi berlangsung dalam beberapa hari ke depan sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
Artikel Terkait
DPR Jadwalkan Rapat 4 Desember Bahas Kerusakan Hulu dan Dampak Material Kayu pada Banjir Sumatera
Banjir Bandang di 3 Provinsi Sumatera, Pemerintah Diminta Evaluasi atas Kebijakan Lingkungan
Dampak Menebang 1.000 Pohon Lebih Berat daripada Menanam 1.000 Pohon, Moratorium Disiapkan
Menteri Investasi Rosan Roeslani Jelaskan 3 Alasan Investor Tetap Optimistis di Kawasan IMIP
Prioritas Nasional: Pemerintah Kerahkan A400, Hercules, dan 50 Helikopter untuk Jangkau Wilayah Terisolir
Lebih 500.000 Ton Logistik Diangkut: Pemerintah Perkuat Komando dan Armada Udara untuk Wilayah Terisolasi
Pemulihan Pascabanjir: Pemerintah Susun Timeline 100 Hari untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Penanganan Bencana Di-backup Penuh: Presiden Siapkan Tambahan Anggaran dan Perkuat Operasi TNI–Polri
Setelah Berhari-Hari Padam, Listrik di Sibolga–Tapteng Pulih: PLN Percepat Perbaikan Jadi 2–3 Hari
Laporan Badan Geologi: 3 Faktor Kunci Penyebab Longsor di 5 Wilayah Sumatera Saat Hujan Ekstrem