Asal Usul Nama Osing dan Arti Filosofinya dalam Bahasa Lokal
Istilah Osing atau Using berasal dari kata “sing” yang berarti “tidak” dalam bahasa lokal.
Ketika penduduk Blambangan ditanya apakah mereka mau menyerah pada Mataram atau VOC, mereka menjawab “sing melu” (tidak ikut), yang kemudian melekat sebagai identitas kelompok ini.
Masyarakat setempat juga menyebut diri sebagai Laros (Lare Osing) atau Wong Blambangan, istilah yang masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Baca Juga: Tiga Nama Akhirnya Batal Menjadi Komisaris dan Direktur Bank BJB, Ini Keputusan OJK
Kekayaan Budaya Osing yang Masih Hidup di Tengah Modernisasi
Budaya Osing dikenal dengan bahasa khasnya — dialek Jawa Kuno dengan pengaruh Bali.
Tradisi kesenian seperti Tari Gandrung, Tumpeng Sewu, dan Kebo-Keboan masih digelar setiap tahun sebagai warisan tak benda yang diakui secara nasional.
Dinas Kebudayaan Banyuwangi, menyebu, pelestarian budaya Osing menjadi salah satu program unggulan untuk menjaga jati diri daerah.
Baca Juga: Momen Haru Keluarga Cendana Saat Soeharto Resmi Jadi Pahlawan Nasional 2025
Pengakuan Nasional Dan Upaya Pelestarian Budaya Osing
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Kemendikbudristek terus memperkuat dokumentasi bahasa Osing dalam bentuk kamus digital dan festival tahunan.
Budaya ini juga diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb) sejak 2019.
Data BPS Banyuwangi (2024) mencatat, lebih dari 60 persen penduduk Banyuwangi masih menggunakan bahasa Osing dalam komunikasi harian.
Baca Juga: Pembangunan 250 Rumah Dimulai, Astra Targetkan 1.000 Unit Rumah Layak Huni
Upaya ini menunjukkan bahwa Suku Osing bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian hidup dari identitas Jawa Timur modern.****