• Sabtu, 18 April 2026

3 Fakta Menarik Curug Kencana Ungu Ujung Kulon, Air Terjun Mistis di Ujung Jawa

Photo Author
Budi Purnomo, 24jamnews.com
- Selasa, 11 November 2025 | 15:56 WIB
Pemandangan hutan tropis TNUK mengelilingi Curug Ratu Kencana Ungu, salah satu destinasi spiritual tersembunyi di Banten.  (Dok. tnujungkulon.ksdae.kehutanan.go.id)
Pemandangan hutan tropis TNUK mengelilingi Curug Ratu Kencana Ungu, salah satu destinasi spiritual tersembunyi di Banten. (Dok. tnujungkulon.ksdae.kehutanan.go.id)

NEWS SUMMARY

  • Kawasan Sanghyang Sirah di Ujung Kulon dikenal sebagai titik paling barat Pulau Jawa yang menyimpan legenda dan keindahan alam.
  • Curug Ratu Kencana Ungu di kawasan TNUK menarik minat peziarah karena nilai spiritual dan sejarah lisan masyarakat Banten.
  • Tantangan akses dan aturan konservasi membuat lokasi ini tetap alami dan berstatus kawasan suci yang dijaga secara adat.

24JAMNEWS.COM - Apakah Anda siap menelusuri ujung barat Pulau Jawa yang menyimpan kisah mistis sekaligus keindahan alam luar biasa di kawasan Sanghyang Sirah?

Di kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Kabupaten Pandeglang, Banten, yang dikenal sebagai “kepalanya Pulau Jawa” menjadi magnet bagi wisatawan alam sekaligus peziarah.

Sanghyang Sirah secara administratif berada di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, dan masuk dalam kawasan TNUK.

Baca Juga: 16,4 Hektare Tanah Jusuf Kalla Diserobot, JK Soroti Modus Mafia Tanah di Indonesia

Karena posisinya di ujung paling barat Pulau Jawa, kawasan ini mendapat julukan “kepalanya Pulau Jawa”.

Akses menuju kawasan ini memerlukan waktu panjang melalui jalur laut atau jalur darat-berjalan kaki dalam satu hingga beberapa hari.

Nilai Religi dan Legenda Rakyat

Menurut masyarakat sekitar, Sanghyang Sirah adalah tempat yang sarat makna spiritual dan tradisi ziarah.

Baca Juga: Pertumbuhan 7 Persen per Tahun: Rekam Jejak Stabilitas Ekonomi Orde Baru di Indonesia

Wisatawan dan peziarah percaya bahwa kawasan ini pernah dikunjungi oleh Ali bin Abi Thalib bersama tokoh lokal untuk menyerahkan Al-Quran, sehingga muncul batu Quran sebagai penanda petilasan.

Selain itu, kawasan ini juga kerap digunakan untuk laku tirakat dan meditasi oleh para karuhun dan peziarah.

Mitigasi Konservasi dan Larangan Adat

Kawasan ini bukan hanya memiliki aspek spiritual, tetapi juga bagian dari ekosistem TNUK yang dilindungi.

Baca Juga: Dari Banyumas Hingga Garut, Astra Wujudkan Ribuan Rumah Layak Huni Gratis

Masyarakat setempat mencatat sejumlah larangan adat yang masih berlaku, seperti dilarang makan sambil berdiri, mematahkan ranting sembarangan, atau bepergian sendiri tanpa izin pemandu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X