Tradisi Ruwatan Bumi Sebagai Benteng Spiritual Masyarakat
Hingga kini, upacara Ruwatan Bumi tetap menjadi inti kehidupan masyarakat Banceuy.
Baca Juga: 60 Persen Warga Banyuwangi Masih Gunakan Bahasa Osing, Warisan Blambangan Hidup Kembali
Upacara ini digelar setiap akhir tahun sebagai bentuk syukur atas rezeki bumi serta doa agar kampung terhindar dari bala.
Menurut tokoh adat Kampung Banceuy yang juga keturunan karuhun Aki Ito, tradisi ini tak hanya ritual spiritual tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
Ruwatan Bumi adalah cara kami menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
Baca Juga: KPK Selidiki Dugaan Penjualan Tanah Negara di Proyek Whoosh Senilai Triliunan Rupiah
Nilai-Nilai Adat Dalam Tatanan Sosial Dan Arsitektur
Selain upacara adat, masyarakat Banceuy menerapkan aturan turun-temurun dalam penataan rumah.
Misalnya, anak laki-laki dilarang membangun rumah di sebelah timur orang tuanya, simbol penghormatan terhadap posisi leluhur.
Walau sebagian rumah kini bergaya modern, nilai-nilai adat tetap menjadi pedoman hidup.
Baca Juga: 1.000 Rumah Layak Huni: Komitmen Sosial Astra Wujudkan SDGs Indonesia
Kesenian tradisional seperti Celempung, Tolént, dan Karinding juga terus dilestarikan sebagai identitas budaya.
Menurut data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat (2024), Kampung Adat Banceuy kini menjadi salah satu dari 56 kampung budaya yang diakui pemerintah provinsi.
Pelestarian Warisan Leluhur di Tengah Modernisasi
Kampung Adat Banceuy bukan sekadar situs sejarah, melainkan simbol kearifan lokal Sunda yang bertahan di tengah modernisasi.
Baca Juga: Tiga Nama Akhirnya Batal Menjadi Komisaris dan Direktur Bank BJB, Ini Keputusan OJK
Dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian adat ini diatur dalam program Desa Wisata Budaya Subang 2024.