NEWS SUMMARY:
- Warga Pesanggaran menggelar aksi menolak tambang emas PT BSI karena khawatir terhadap dampak lingkungan Gunung Tumpangpitu.
- Spanduk penolakan dipasang sebagai simbol keresahan atas kerusakan hutan, sumber air, dan potensi longsor.
- Pemerintah diminta meninjau ulang izin tambang demi keselamatan warga.
24JAMNEWS.COM - Apakah keuntungan ekonomi dari sebuah tambang dapat mengimbangi risiko kerusakan lingkungan yang mungkin meninggalkan beban jangka panjang bagi masyarakat?
Puluhan warga yang tergabung dalam "Gerakan Rakyat Selamatkan Tumpang Pitu (GRSTP)" menggelar aksi damai menolak tambang emas PT BSI.
Aksi damai berlangsung di lapangan Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Rabu, 12 November 2025, sebagai bentuk protes terhadap dampak ekologis yang mereka nilai merugikan masyarakat.
Baca Juga: Data Unik: Lebih dari 50 Rumah di Kampung Pasir Makam Cianjur Dikelilingi oleh Kuburan
Warga membawa spanduk bertuliskan “Tumpangpitu Menangis, Rakyat Bangkit” untuk menegaskan bahwa aktivitas pertambangan dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang bergantung pada kondisi alam yang stabil.
Ketua Aliansi Setia Nawaksara Indonesia, Raden Teguh Firmansyah, dalam orasinya mengatakan bahwa penolakan warga bukanlah upaya menghambat pembangunan.
Melainkan permintaan agar pemerintah mempertimbangkan keselamatan lingkungan dan hak hidup masyarakat.
Baca Juga: Investasi Nasional Capai Rp1.434 Triliun, Pemerintah Targetkan Ekonomi Tumbuh 8 Persen Pada 2029
“Kami berdiri di sini bukan untuk melawan pembangunan, tetapi untuk menyelamatkan masa depan Banyuwangi,” ujar Raden Teguh Firmansyah.
Warga Soroti Dampak Lingkungan yang Mengancam Masa Depan Ekologis Daerah
Aksi tersebut menyoroti potensi kerusakan hutan, menyusutnya sumber air, dan ancaman longsor yang menurut warga semakin terlihat seiring bertambahnya area operasi tambang.
Spanduk dan poster yang dipasang menjadi ekspresi kekhawatiran masyarakat terhadap intensitas eksploitasi yang dianggap dapat memicu kerentanan geologis di kawasan selatan Banyuwangi.
Baca Juga: Citapen Ciamis Jawa Barat Simpan Lukisan Batu Tangan Manusia Purba 7.000 Tahun
Warga berharap pemerintah mempertimbangkan data lapangan dan pengalaman masyarakat yang merasakan perubahan lingkungan dalam beberapa tahun terakhir.
Artikel Terkait
Operasi Mayjen Febriel Buyung Sikumbang Sita 14 Alat Berat Tambang Ilegal Bangka Tengah
Lima Saham Melonjak di Atas 24 Persen Saat Indeks Harga Saham Gabungan Naik 22 Poin
Pertumbuhan Ekonomi 2026 Capai 5,33 Persen, BI: Bisa Tembus 5,4 Persen Bila Belanja Cepat
ADIPEC 2025: Indonesia Bisa Tampilkan Arah Baru Energi Nasional Bersama Pertamina EP
Citapen Ciamis Jawa Barat Simpan Lukisan Batu Tangan Manusia Purba 7.000 Tahun
Pemerintah Perkuat Hilirisasi dan Properti, Investasi Naik Jadi Rp1.434 Triliun Pada Kuartal III 2025
Investasi Nasional Capai Rp1.434 Triliun, Pemerintah Targetkan Ekonomi Tumbuh 8 Persen Pada 2029
Investor Bersiap! SCMA Umumkan Bagi Dividen Interim 2025 Sebesar Rp9 Per Saham
Waspada Modus Baru: Akun Palsu Gunakan Nama Hashim Djojohadikusumo untuk Investasi Bodong
Data Unik: Lebih dari 50 Rumah di Kampung Pasir Makam Cianjur Dikelilingi oleh Kuburan