Misalnya: ke media → fakta dan narasumber; ke investor/regulator → dampak bisnis dan kepatuhan; ke karyawan → jaminan keamanan; ke konsumen → dampak layanan dan permohonan maaf.
Baca Juga: Jokowi: Semua Pemimpin Punya Jasa, Soeharto dan Gus Dur Masuk 40 Usulan Pahlawan Nasional
Press Release Sebagai Fondasi Komunikasi Krisis Berkelanjutan
Menurut PRC Indonesia, siaran pers pertama bukan adalah akhir, melainkan fondasi komunikasi krisis.
“Konsistensi adalah kunci. Jangan ubah fakta dasar dari hari ke hari. Jika ada perubahan data, jelaskan mengapa,” tegas Budipur.
Rilis berikut yang dilakukan berkala selama krisis harus merujuk kembali ke pesan awal dan menunjukkan perkembangan penanganan.
Baca Juga: Sebanyak 2.766 Gempa Letusan Tercatat PVMBG, Gunung Semeru Masih Berstatus Waspada
Mengutamakan Reputasi Jangka Panjang Melalui Komunikasi Cermat
Pada akhirnya, siaran pers yang strategis berfungsi untuk mempertahankan ekuitas merek yang mungkin telah dibangun bertahun-tahun.
Komunikasi yang buruk bisa meruntuhkan reputasi seketika, sedangkan komunikasi krisis yang cerdas dan bertanggung jawab dapat justru mengokohkan kepercayaan publik.
Karena menunjukkan kedewasaan organisasi dalam tekanan.
Baca Juga: 50,5 Persen Suara untuk Zohran Mamdani: Balasan Politik untuk Presiden Donald Trump
Kiat Praktis dari Press Release Center (PRC)
1. Kecepatan tak boleh mengorbankan akurasi: rilis harus disetujui oleh tim inti krisis (hukum, CEO, komunikasi) dan bebas spekulasi.
2. Tetapkan satu juru bicara eksplisit yang disebut dalam rilis untuk menghindari suara internal yang bercabang.
3. Gunakan bahasa yang jelas, tanpa jargon teknis yang membingungkan publik umum.
Baca Juga: Mengapa Kampung Kuta Ciamis Disebut Lembah Seribu Pantangan? Ini Alasannya
Sebuah organisasi dapat mengubah ancaman krisis menjadi peluang untuk memperkuat reputasi dan meraih kembali kepercayaan publik.