- Tiga dekade pemerintahan Suharto mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% per tahun dan penurunan kemiskinan hingga 11% pada 1996.
- Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984, diakui FAO sebagai keberhasilan pembangunan pertanian nasional.
- Infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan berkembang pesat melalui program listrik desa, Puskesmas, dan wajib belajar enam tahun.
24JAMNEWS.COM - Apakah mungkin sebuah pemerintahan membangun ekonomi dari krisis menjadi stabil hanya dalam waktu tiga dekade?
Pertanyaan itu membawa kita kembali pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, yang selama 32 tahun.
Telah berhasil membawa Indonesia dari ketidakpastian menuju era pertumbuhan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Saham RAFI Berfluktuasi Tajam, Manajemen Informasikan Tak Ada Terkait Fakta Material Baru
Stabilitas Politik Mendorong Fondasi Pertumbuhan Nasional
Transisi kepemimpinan nasional dari era Soekarno ke pemerintahan Orde Baru berlangsung dalam situasi sulit.
Namun Presiden Soeharto berhasil menata ulang sistem pemerintahan dengan prioritas utama pada stabilitas politik dan keamanan nasional.
Pemerintahannya menumpas pemberontakan G30S/PKI, membubarkan Partai Komunis Indonesia.
Baca Juga: Pulihkan Segera Gangguan Mental Pelaku Perundungan dan Sembuhkan Mentalitas Korbannya
Dan mengarahkan roda pemerintahan ke arah pembangunan terencana melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).
Menurut catatan Kementerian Sekretariat Negara, stabilitas politik ini menjadi dasar utama tercapainya target-target ekonomi dan sosial di masa berikutnya.
Pertumbuhan Ekonomi dan Swasembada Pangan di Era Keemasan
Selama periode 1970-an hingga awal 1990-an, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 7% per tahun.
Baca Juga: Hanasta Patala Petrogas Evaluasi 5 Blok Migas Nasional, Siapkan Langkah Akuisisi Strategis
Sebuah capaian yang jarang terjadi di negara berkembang kala itu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita melonjak dari sekitar USD 70 pada awal 1970-an menjadi lebih dari USD 1.000 menjelang akhir 1990-an.
Artikel Terkait
Tragedi Panti Jember Tahun 2006: Ketika Lereng Argopuro Menumpahkan Murkanya
Menuju DEN 2026–2030: DPR Uji 16 Calon Anggota, 8 Akan Dipilih Presiden Prabowo Subianto
Bagaimana Press Release Menjadi Senjata Utama dalam Manajemen Krisis Korporasi
8 Tersangka Kasus Ijazah Jokowi: Begini Reaksi Roy Suryo, dr Tifauzia, dan Rismon Sianipar
Polisi Tetapkan 8 Tersangka Kasus Ijazah Jokowi, Tiga Tokoh Nasional Ikut Terseret
Kasus Ijazah Jokowi: dr Tifauzia Pasrah, Roy Suryo dan Rismon Sianipar Siap Hadapi Hukum
Data BNPB: 202 Jiwa Terdampak Banjir Cilegon, 2 Tewas di Brebes Awal November 2025
Hanasta Patala Petrogas Evaluasi 5 Blok Migas Nasional, Siapkan Langkah Akuisisi Strategis
Pulihkan Segera Gangguan Mental Pelaku Perundungan dan Sembuhkan Mentalitas Korbannya
Saham RAFI Berfluktuasi Tajam, Manajemen Informasikan Tak Ada Terkait Fakta Material Baru