• Sabtu, 18 April 2026

Data 2024: Bahasa Osing Warisan Blambangan Masih Digunakan di 72 Desa Budaya Banyuwangi

Photo Author
Budi Purnomo, 24jamnews.com
- Kamis, 13 November 2025 | 16:00 WIB
Jejak Majapahit di Banyuwangi: Suku Osing Pertahankan Tradisi Blambangan 700 Tahun yang Lalu (Instagram.com @desa_kemiren)
Jejak Majapahit di Banyuwangi: Suku Osing Pertahankan Tradisi Blambangan 700 Tahun yang Lalu (Instagram.com @desa_kemiren)

NEWS SUMMARY

  • Suku Osing di Banyuwangi merupakan keturunan langsung masyarakat Kerajaan Blambangan yang menolak tunduk pada kekuasaan luar.
  • Identitas Osing lahir dari perlawanan sejarah, termasuk Puputan Bayu 1771 M melawan VOC Belanda.
  • Kini, lebih dari 60% warga Banyuwangi masih menggunakan bahasa Osing sebagai bahasa keseharian.

24JAMNEWS.COM - Apakah Anda tahu bahwa di ujung timur Pulau Jawa hidup satu komunitas yang mempertahankan warisan Majapahit hingga kini?

Mereka disebut Suku Osing — masyarakat asli Banyuwangi yang menolak tunduk pada kekuasaan luar dan tetap teguh menjaga identitas budaya leluhur mereka.

Suku Osing merupakan keturunan langsung dari penduduk Kerajaan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa yang berdiri hingga abad ke-18.

Baca Juga: KPK Selidiki Dugaan Penjualan Tanah Negara di Proyek Whoosh Senilai Triliunan Rupiah

Setelah keruntuhan Majapahit pada abad ke-15, sebagian besar rakyatnya berpindah ke Bali, Gunung Bromo, dan Blambangan.

Mereka yang menetap di Blambangan memilih mempertahankan kepercayaan, bahasa, dan budaya leluhur, yang kemudian membentuk identitas khas Osing.

Menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud, 2021), komunitas ini menjadi fondasi terbentuknya Banyuwangi modern.

Baca Juga: 1.000 Rumah Layak Huni: Komitmen Sosial Astra Wujudkan SDGs Indonesia

Perlawanan Heroik Melawan VOC Dalam Peristiwa Puputan Bayu

Puncak pembentukan identitas Osing terjadi pada peristiwa Puputan Bayu tahun 1771 M.

Ketika rakyat Blambangan di bawah pimpinan Raden Jagapati melawan VOC Belanda hingga titik darah penghabisan.

Istilah “puputan” yang berarti perang sampai mati juga dikenal di Bali, menandakan kesamaan semangat perlawanan di dua wilayah ini.

Baca Juga: Menuju Pertanian 5.0: Wamentan Sudaryono Terapkan Teknologi AI Untuk Produktivitas Nasional

Puputan Bayu menjadi simbol harga diri dan kemandirian masyarakat Osing, serta menegaskan posisi Blambangan sebagai benteng terakhir budaya Jawa-Hindu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X