nusantara

1800-an Hingga Kini: Sejarah Kampung Adat Banceuy yang Tetap Hidup di Subang

Rabu, 12 November 2025 | 16:58 WIB
Siswa-siswi yang sedang beristirahat saat hiking ke Leuwi Lawang di Kampung Banceuy kemungkinan besar sedang menikmati suasana alam yang asri dan sejuk, khas daerah pegunungan di Subang, Jawa Barat. (Instagram.com @kampungadatbanceuy)

NEWS SUMMARY:

  • Kampung Adat Banceuy di Subang lahir dari musyawarah tujuh karuhun setelah bencana besar pada awal 1800-an dan menjadi simbol pelestarian adat Sunda.
  • Tradisi Ruwatan Bumi setiap tahun menjadi sarana warga Banceuy bersyukur kepada Tuhan serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
  • Pemerintah daerah menetapkan Banceuy sebagai kampung adat resmi Jawa Barat dan destinasi budaya unggulan di bawah program Subang Creative Culture 2025.

24JAMNEWS.COM - Apakah sebuah musibah bisa melahirkan peradaban baru? Di Subang, Jawa Barat, kisah ini bukan sekadar legenda.

Dari bencana angin puting beliung dua abad silam, lahirlah Kampung Adat Banceuy permukiman yang hingga kini menjadi penjaga nilai musyawarah dan warisan karuhun Sunda.

Terletak di Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Kampung Adat Banceuy merupakan satu-satunya kampung adat yang masih aktif di wilayah tersebut.

Baca Juga: Harga Pupuk Subsidi Turun Sebanyak 20 Persen, Petani Rasakan Dampak Perpres Baru

Menurut catatan sejarah lisan warga, asal usulnya dapat ditelusuri ke awal 1800-an ketika wilayah ini masih dikenal dengan nama Kampung Negla, singkatan dari Neunggang jeung Lega yang berarti “tinggi dan terbuka.”

Kampung ini didirikan oleh tujuh karuhun atau leluhur yang dikenal sakti dan bijak, yaitu Eyang Ito, Aki Leutik, Eyang Malim, Aki Alman, Eyang Ono, Aki Uti, dan Aki Arsiam.

Salah satu di antaranya, Aki Leutik, dipercaya berasal dari Sumedang dan memiliki peran penting dalam penyebaran nilai-nilai kearifan lokal.

Baca Juga: Dari 17 Dolar AS Jadi 52 Juta Dolar AS per Kilometer: Mengapa Biaya Whoosh Membengkak?

Musibah Alam dan Musyawarah Leluhur yang Mengubah Nama Kampung

Sekitar dua abad lalu, Kampung Negla dilanda angin puting beliung besar yang merusak hampir seluruh rumah warga.

Setelah bencana itu, ketujuh karuhun menggelar musyawarah besar dalam bahasa Sunda disebut Ngabanceuy untuk mencari cara melindungi kampung dari malapetaka serupa.

Dari hasil musyawarah itu disepakati tiga keputusan penting: kepemimpinan kampung diwariskan kepada keturunan Aki Ito, diadakannya Ruwatan Bumi setiap tahun.

Baca Juga: RUPSLB Bank BJB 1 Desember 2025 Bahas Pembatalan 3 Pengurus, Apa Alasannya?

Dan penggantian nama kampung menjadi Banceuy diambil dari kata Ngabanceuy yang berarti musyawarah untuk keselamatan.

Keputusan itu menjadi tonggak berdirinya Nagara Banceuy, sebuah kampung yang dipagari oleh nilai adat, solidaritas, dan penghormatan pada alam.

Halaman:

Tags

Terkini