Baca Juga: Data IPO: Menkeu Purbaya Teratas dengan 17,5 Persen, Ini Kisah Beratnya Saat Kerja Lapangan Migas
*Setelah itu ada seleksi lagi dan Alhamdulillah sampai di titik ini, di Pelatnas,” tutur Andi yang mengawali karirnya sebagai atlet Karate.
Perempuan berdarah Bugis ini menyebutkan bahwa di setiap level kompetisi, tantangannya tidak hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga mental.
Rasa takut gagal, tekanan untuk menang, hingga bayangan akan cedera pernah menghantuinya. Namun, Andi Jerni selalu menemukan penopang terkuatnya keluarga.
Baca Juga: Dinamika NU Menguat, Mahfud MD Sebut Proyek Tambang sebagai Faktor Utama di Balik Ketegangan
“Ya pastinya orang tua, kedua orang tua, Mama, Bapak selalu mendoakan yang terbaik".
"Memberikan sesuatu yang maksimal di SEA Games nanti dan berusaha membuat mereka bangga,” kata anak dari pasangan Andi Zainal dan Andi Nurlinda ini.
Doa itu tidak hanya memberi kekuatan, tetapi menjadi identitas spiritual seorang atlet berjuang bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk mereka yang berada di belakangnya.
Baca Juga: Setelah Banjir Bandang Sumatera, DPR Temukan Truk Kayu Besar dan Minta Investigasi Menyeluruh
Ia tidak ragu ketika menyebutkan bahwa seluruh pengorbanan yang ia lakukan sekeras apa pun adalah bentuk baktinya kepada Indonesia.
“Kalau pengorbanan keringat, air mata, darah semua sudah diberikan. Semua untuk merah putih,” ucapnya
Ada ribuan jam latihan, cedera kecil, dan berbagai pengorbanan waktu yang menghilangkan banyak kesenangan remaja yang biasanya dinikmati anak seusianya.
Baca Juga: Zona Rawan: 6 Wilayah Sumatera Masuk Potensi Gerakan Tanah Tinggi Berdasarkan Peta Badan Geologi
Namun ia tidak menyesal, jalan ini telah dipilihnya, dan ia telah berdamai dengan segala tantangannya.
Dulu, ia bahkan sempat merasa terbebani dengan ekspektasi yang terus meningkat.