NEWS SUMMARY:
- Titiek Soeharto menyoroti kemunculan truk pengangkut kayu besar dua hari setelah banjir bandang melanda Sumatera, memicu reaksi publik.
- Dalam rapat dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Titiek mengkritik penebangan kayu besar yang dianggap tidak sensitif terhadap situasi pascabencana.
- DPR mendesak penegakan hukum tegas atas dugaan penebangan ilegal, termasuk bila ada pihak berkekuatan politik atau ekonomi di baliknya.
24JAMNEWS.COM - Bagaimana mungkin truk-truk pengangkut kayu berdiameter besar melintas hanya dua hari setelah banjir bandang?
Sementara masyarakat masih berduka dan pemulihan belum tuntas.
Hal ini menjadi pertanyaan besar yang memicu teguran keras Ketua Komisi IV DPR kepada Menteri Kehutanan dalam rapat di Senayan.
Baca Juga: Data Badan Geologi: Curah Hujan Ekstrem Jadi Faktor Dominan Bencana Hidrometeorologi Pekan Ini
Truk Pengangkut Kayu Besar Pascabencana Picu Pertanyaan Publik
Ketua Komisi IV DPR, Titiek Soeharto, mempertanyakan kemunculan truk bermuatan kayu berdiameter besar yang melintas dua hari setelah banjir bandang melanda sejumlah wilayah Sumatera.
Video pergerakan truk yang diputar dalam rapat bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memicu perdebatan serius.
Titiek menilai kemunculan truk pascabencana menyinggung masyarakat yang masih memulihkan kerusakan akibat banjir bandang.
Baca Juga: Mahfud MD Ungkap Akar Ketegangan dari Proyek dan Perizinan Tambang yang Menjadi Isu Internal
Ia menyebut pemandangan kayu besar itu menyakitkan bagi publik yang masih berduka dan berjuang memulihkan kehidupan.
Reaksi Titiek Soeharto Atas Pemutaran Video Kayu Gelondongan Besar
Dalam rapat di Kompleks Parlemen Jakarta, Titiek tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya setelah melihat ukuran kayu yang dipotong dan diangkut.
Ia mempertanyakan bagaimana pohon berdiameter sekitar 1,5 meter itu bisa ditebang dan dibawa di tengah situasi pemulihan bencana.
Baca Juga: Moratorium Penebangan Hutan: Dedi Siapkan Kebijakan Baru untuk Kurangi Risiko Bencana di Jabar
Menurutnya, aktivitas itu tidak menunjukkan kepekaan terhadap situasi masyarakat yang baru kehilangan rumah dan keluarga.
Artikel Terkait
Dampak Menebang 1.000 Pohon Lebih Berat daripada Menanam 1.000 Pohon, Moratorium Disiapkan
Menteri Investasi Rosan Roeslani Jelaskan 3 Alasan Investor Tetap Optimistis di Kawasan IMIP
Isu Tambang Dinilai Jadi Pemicu Konflik PBNU, Mahfud MD Jelaskan Pergeseran Karakter Organisasi
BMKG Ungkap 2 Fenomena Atmosfer Pemicu Hujan Sangat Lebat yang Sebabkan Banjir di Sumatera
183 Personel dan Puluhan Ton Logistik Diangkut Kapal Wisanggeni 8005, Polri Perkuat Penanganan Banjir
Dukungan Maksimal: Helikopter, Hercules, dan 40 Ton Logistik Gerakkan Penanganan Banjir Aceh
Jalan Palembayan Bisa Dilalui, Tim Gabungan Salurkan Bantuan ke Wilayah yang Sebelumnya Terputus
23 Korban Tewas di Taput: Bantuan TNI–Polri dan Perangkat Starlink Bantu Pulihkan Akses Jalan serta Komunikasi
BBM di Aceh: Pengiriman Udara 2.000 Liter dan Skema Clustering SPBU Jadi Andalan Pertamina
Tragedi Palembayan: 60 Warga Belum Ditemukan, Upaya SAR Temukan 3 Anak Suherman di Lokasi Berbeda