Andi Amran Sulaiman memaparkan sebuah produk beras berlabel premium memiliki tingkat patahan sekitar 59 persen dalam pemeriksaan kualitas sehingga tidak memenuhi standar premium.
Andi Amran Sulaiman menjelaskan batas maksimal patahan untuk kategori premium hanya sekitar 14 persen sehingga temuan 59 persen berpotensi merugikan konsumen.
Baca Juga: Dari Truk Modifikasi ke Tambang Ilegal: Jejak 42 Ton BBM Subsidi yang Disembunyikan di Bangka
Andi Amran Sulaiman menyebut kondisi tersebut sebagai bukti adanya praktik Serakahnomic karena kualitas menurun dapat dikemas tetapi dijual sebagai produk premium.
Andi Amran Sulaiman menilai praktik manipulasi kualitas dapat mengganggu stabilitas pasar serta berpotensi merugikan masyarakat dalam jangka panjang.
Keterlibatan Pelaku Besar dalam Skema yang Menggunakan Anggaran Publik
Adakah skema subsidi yang seharusnya melindungi masyarakat kecil namun justru ikut menguntungkan pelaku besar, karena Menteri Pertanian menyinggung adanya ketidaktepatan sasaran.
Baca Juga: Kemenangan 2-1 Atas Honduras Antarkan Nova Arianto Promosi ke Timnas Indonesia U-20
Andi Amran Sulaiman mengatakan terdapat pelaku besar yang menerima manfaat dari skema yang didesain untuk membantu kelompok kecil sehingga negara perlu memperbaiki tata kelola.
Andi Amran Sulaiman menilai perbaikan sistem diperlukan agar subsidi tepat sasaran sehingga pelaku kecil dapat memperoleh perlindungan dari tekanan pasar.
Andi Amran Sulaiman menyebut reformasi sektor pangan harus menyeluruh agar korporasi tidak mendominasi rantai pasok sehingga keseimbangan ekonomi terjaga.
Baca Juga: Kerugian Petani Meningkat: Produksi Padi Turun 70% Akibat Banjir Lumpur di Pomalaa
Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus menata sistem distribusi pangan untuk memastikan kepentingan publik lebih terlindungi.
Perubahan Struktur Pasar yang Membutuhkan Pengawasan Lebih Ketat
Mungkinkah pasar beras nasional kembali stabil tanpa reformasi kebijakan, karena Menteri Pertanian menekankan perlunya pengawasan terhadap pola pembelian dan kualitas produk.
Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah membutuhkan langkah korektif secara sistemik untuk mengurangi praktik Serakahnomic agar pasar kembali berpihak kepada masyarakat.
Baca Juga: Bitcoin Jatuh ke 96.000 Dolar AS Usai Shutdown Amerika Serikat Berakhir, Apa Pemicunya?
Artikel Terkait
Lonjakan Popularitas Purbaya Mirip Sri Mulyani, Pengamat Bicara Risiko Politik dalam Kebijakan Fiskal
KKR Suntik Dana 750 Juta Dolar AS untuk Ekspansi SPBU Esso, Strategi Energi Hilir Chandra Asri
TRING Pegadaian Raih Rating Rendah, Dipenuhi Aduan Error, Gagal Login, dan Kendala Transaksi
Iklim Mikro Kwatisore Papua: Desa yang Nyaris Tak Pernah Lewatkan Hujan Sore Setiap Hari
Fenomena Politik Baru: Seskab Teddy Lampaui Popularitas Sejumlah Menteri Versi Survei 2025
D-Library dan 4 Inisiatif Baru Percepat Replikasi Inovasi Operasional di Pertamina Drilling
Pertamina Drilling Genjot Daya Saing Melalui Knowledge Management Berbasis Teknologi Digital
Dugaan Keterhubungan Gubernur Dengan 5 Konsesi Tambang Memicu Desakan Audit Independen
Salak Condet dan 3.000 Pohon Tersisa: Fakta Terbaru Pelestarian Warisan Betawi di Tengah Jakarta
Misteri Desa Gaib Halimun: Fakta Lapangan, Data Lahan, dan Isu Pengakuan Adat yang Menggantung