NEWS SUMMARY:
- Condet tidak pernah ditetapkan sebagai “kampung terakhir” Jakarta, namun menyimpan sejarah Betawi dan kebun buah berusia puluhan tahun.
- Cagar Buah Condet mempertahankan ribuan pohon salak dan duku di tengah dominasi permukiman yang mencapai lebih dari 70 persen.
- Pelestarian kawasan menghadapi tantangan lahan terbatas, pencurian buah, dan tekanan urbanisasi.
24JAMNEWS.COM - Apakah Condet benar-benar kampung terakhir di Jakarta — atau sekadar mitos romantis urban?
Banyak orang menyebut Goa Monyet di Condet sebagai bukti bahwa kawasan ini adalah “kampung terakhir” Jakarta.
Namun, tidak ada penetapan resmi yang menyatakan Condet sebagai kampung terakhir ibu kota.
Baca Juga: IDTC Latih Ratusan Tenaga Pemboran per Tahun, Perkuat Transfer Pengetahuan Lintas Generasi
Sebaliknya, Condet adalah bagian dari kota besar Jakarta yang terus berkembang pesat, meski mempertahankan karakter tradisional Betawi.
Sejarah Ringkas Condet dan Goa Monyet
Condet, yang kini berada di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, dulunya merupakan lahan pertanian dan buah-buahan seperti salak dan duku milik penduduk asli Betawi.
Kawasan Goa Monyet lebih bersifat nama warisan lokal — catatan sejarah konkret tentang goa monyet sungguhan sulit ditemukan.
Baca Juga: Data 59 Persen Patahan dan Strategi Harga: Penjelasan Mentan soal Serakahnomic
Terutama dalam sumber resmi, dan kemungkinan besar goa fisik tersebut telah hilang akibat erosi maupun pembangunan.
Konflik Identitas dan Urbanisasi
Seiring waktu, urbanisasi mengikis lahan kebun Condet secara signifikan.
Pada akhir abad ke-20, sebagian besar kebun milik warga dijual dan dialihfungsikan menjadi pemukiman padat.
Baca Juga: Sikap Empatik Seskab Teddy Jadi Sorotan, Survei Catat Awareness Publik Melewati Angka 50 Persen
Meski pernah berstatus cagar budaya Betawi pada masa Gubernur Ali Sadikin, status itu dicabut pada 2004 dan dialihkan ke Setu Babakan.
Data penggunaan lahan menunjukkan bahwa saat ini 71,31% Condet sudah menjadi permukiman, sementara lahan pertanian hanya sekitar 9,13%.
Artikel Terkait
Lonjakan Popularitas Purbaya Mirip Sri Mulyani, Pengamat Bicara Risiko Politik dalam Kebijakan Fiskal
KKR Suntik Dana 750 Juta Dolar AS untuk Ekspansi SPBU Esso, Strategi Energi Hilir Chandra Asri
TRING Pegadaian Raih Rating Rendah, Dipenuhi Aduan Error, Gagal Login, dan Kendala Transaksi
Iklim Mikro Kwatisore Papua: Desa yang Nyaris Tak Pernah Lewatkan Hujan Sore Setiap Hari
Gabah Naik Rp500–Rp1.000: Mentan Ungkap Dampak Serakahnomic pada Penggilingan Kecil
Kepemimpinan Humanis Seskab Teddy Dinilai Efektif, Data Survei Perlihatkan Tren Kepuasan Tinggi
Fenomena Politik Baru: Seskab Teddy Lampaui Popularitas Sejumlah Menteri Versi Survei 2025
Data Indikator 2025: Popularitas Seskab Teddy Naik Pesat, Soroti Gaya Kepemimpinan Humanis
Bagaimana 1 Ekosistem Pengetahuan Terpadu Mengubah Cara Pertamina Drilling
Dugaan Keterhubungan Gubernur Dengan 5 Konsesi Tambang Memicu Desakan Audit Independen