• Sabtu, 18 April 2026

Salak Condet dan 3.000 Pohon Tersisa: Fakta Terbaru Pelestarian Warisan Betawi di Tengah Jakarta

Photo Author
Budi Purnomo, 24jamnews.com
- Rabu, 19 November 2025 | 09:40 WIB
Cagar Buah Condet di Jakarta Timur mempertahankan ribuan pohon salak dan duku yang menjadi warisan penting masyarakat Betawi di tengah tekanan urbanisasi. (Instagram.com @rennindritha)
Cagar Buah Condet di Jakarta Timur mempertahankan ribuan pohon salak dan duku yang menjadi warisan penting masyarakat Betawi di tengah tekanan urbanisasi. (Instagram.com @rennindritha)


NEWS SUMMARY:

  • Condet tidak pernah ditetapkan sebagai “kampung terakhir” Jakarta, namun menyimpan sejarah Betawi dan kebun buah berusia puluhan tahun.
  • Cagar Buah Condet mempertahankan ribuan pohon salak dan duku di tengah dominasi permukiman yang mencapai lebih dari 70 persen.
  • Pelestarian kawasan menghadapi tantangan lahan terbatas, pencurian buah, dan tekanan urbanisasi.

24JAMNEWS.COM - Apakah Condet benar-benar kampung terakhir di Jakarta — atau sekadar mitos romantis urban?

Banyak orang menyebut Goa Monyet di Condet sebagai bukti bahwa kawasan ini adalah “kampung terakhir” Jakarta.

Namun, tidak ada penetapan resmi yang menyatakan Condet sebagai kampung terakhir ibu kota.

Baca Juga: IDTC Latih Ratusan Tenaga Pemboran per Tahun, Perkuat Transfer Pengetahuan Lintas Generasi

Sebaliknya, Condet adalah bagian dari kota besar Jakarta yang terus berkembang pesat, meski mempertahankan karakter tradisional Betawi.

Sejarah Ringkas Condet dan Goa Monyet

Condet, yang kini berada di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, dulunya merupakan lahan pertanian dan buah-buahan seperti salak dan duku milik penduduk asli Betawi.

Kawasan Goa Monyet lebih bersifat nama warisan lokal — catatan sejarah konkret tentang goa monyet sungguhan sulit ditemukan.

Baca Juga: Data 59 Persen Patahan dan Strategi Harga: Penjelasan Mentan soal Serakahnomic

Terutama dalam sumber resmi, dan kemungkinan besar goa fisik tersebut telah hilang akibat erosi maupun pembangunan.

Konflik Identitas dan Urbanisasi

Seiring waktu, urbanisasi mengikis lahan kebun Condet secara signifikan.

Pada akhir abad ke-20, sebagian besar kebun milik warga dijual dan dialihfungsikan menjadi pemukiman padat.

Baca Juga: Sikap Empatik Seskab Teddy Jadi Sorotan, Survei Catat Awareness Publik Melewati Angka 50 Persen

Meski pernah berstatus cagar budaya Betawi pada masa Gubernur Ali Sadikin, status itu dicabut pada 2004 dan dialihkan ke Setu Babakan.

Data penggunaan lahan menunjukkan bahwa saat ini 71,31% Condet sudah menjadi permukiman, sementara lahan pertanian hanya sekitar 9,13%.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X