NEWS SUMMARY
- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan praktik Serakahnomic yang mempengaruhi pasokan gabah dan kualitas beras premium di pasar.
- Pelaku besar disebut menyerap gabah dengan pola harga berjenjang sehingga penggilingan kecil tidak mendapatkan akses bahan baku.
- Pemerintah menilai reformasi sistem pangan diperlukan agar kualitas beras transparan dan subsidi tepat sasaran.
24JAMNEWS.COM - Mengapa kualitas beras yang disebut premium di pasaran tidak selalu sesuai standar?
Bagaimana praktik bisnis tertentu dapat menekan penggilingan kecil hingga kehilangan akses bahan baku?
Pertanyaan ini mengemuka usai penjelasan Menteri Pertanian dalam sebuah wawancara publik.
Baca Juga: Usai Rilis, Aplikasi TRING Pegadaian Dikritik Pengguna karena Gangguan OTP dan Migrasi Akun
Pola Harga Berbeda yang Dinilai Mematikan Penggilingan Kecil
Pernahkah publik membayangkan bagaimana selisih harga gabah beberapa ratus rupiah dapat mengubah keseimbangan pasokan nasional?
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut pola tersebut membuat penggilingan kecil kehilangan bahan baku.
Andi Amran Sulaiman selaku Menteri Pertanian RI mengatakan pelaku besar membeli Gabah Kering Panen sedikit di atas harga pasar sehingga seluruh pasokan terserap ke korporasi.
Baca Juga: Pendanaan 750 Juta Dolar AS Dorong Akuisisi SPBU Esso dan Ekspansi Energi Hilir Chandra Asri
Andi Amran Sulaiman menjelaskan pembelian dengan pola menaikkan harga tipis dimulai dari Rp6.000 menjadi Rp6.500 lalu dari Rp7.000 menjadi Rp7.500 sehingga pelaku kecil tidak memperoleh gabah.
Andi Amran Sulaiman menegaskan strategi tersebut telah berlangsung lama namun baru saat ini dibongkar pemerintah untuk mengembalikan keberpihakan kepada petani dan pelaku kecil.
Andi Amran Sulaiman menilai praktik itu selaras dengan fenomena yang disebut Presiden sebagai Serakahnomic sehingga dampaknya dirasakan langsung oleh pelaku kecil dalam rantai pasok.
Baca Juga: Redenominasi Rp1000 ke Rp1: Data, Kewenangan BI, dan Dampak Psikologis Jadi Sorotan Publik
Manipulasi Kualitas Beras Premium yang Mencederai Kepercayaan Konsumen
Mengapa beras premium di rak ritel kadang tidak mencerminkan standar kualitas yang seharusnya, karena Menteri Pertanian menemukan patahan jauh melampaui batas kategori premium.
Artikel Terkait
Mengapa PJJ SMAN 72 Jakarta Diperpanjang? Ini Penjelasan Sekolah, Psikolog, dan Aparat Hukum
Konflik Suksesi Keraton Solo 2025: Angka, Tokoh, dan Isu Penting Yang Dipertaruhkan
Kasus 42 Ton BBM Subsidi di Gudang Belinyu Terungkap, Polisi Telusuri Pasokan dari Sumsel
Setelah Penggeledahan di BI dan OJK, KPK Tunggu Kesaksian Wela Arista yang Mangkir
Penglipuran dan 45 Hektar Hutan Lestari: Model Desa yang Bersih Berbasis Adat
Longsor Situkung Banjarnegara 15 November: 286 Keluarga Mengungsi, 45 Warga Terisolasi
Pengamat Soroti Gaya Fiskal Purbaya dan Potensi Konflik Politik di Tengah Pengelolaan APBN 2026
Akuisisi SPBU Esso Didukung 750 Juta Dolar AS, Chandra Asri Perkuat Posisi Energi Hilir di Singapura
Keluhan Pengguna: Aplikasi TRING Pegadaian Hadapi Masalah Error hingga Masakah Verifikasi OTP
Fenomena 365 Kali Hujan Sore Setahun di Kwatisore Papua: Apa Faktor Iklim Mikro yang Memicunya?