• Sabtu, 18 April 2026

Kekayaan Prajogo Pangestu Sentuh Rp 636 Triliun, Tertinggi di Asia Tenggara

Photo Author
Budi Purnomo, 24jamnews.com
- Jumat, 31 Oktober 2025 | 15:30 WIB
PT Barito Pacific, menempati posisi pertama dengan kekayaan 38,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 636 triliun. (Dok. barito-pacific.com)
PT Barito Pacific, menempati posisi pertama dengan kekayaan 38,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 636 triliun. (Dok. barito-pacific.com)

NEWS SUMMARY:

  • Fotmrbes rilis daftar orang terkaya Asia Tenggara per Oktober 2025
  • Pengusaha Indonesia mendominasi posisi teratas
  • Fenomena konglomerat Tionghoa-Indonesia dijelaskan lewat faktor historis

24JAMNEWS.COM - Mengapa di Indonesia, nama-nama besar dalam daftar orang terkaya justru berasal dari etnis Tionghoa.

Sementara di negara lain konglomeratnya berasal dari etnis mayoritas?

Pertanyaan ini kembali muncul setelah Forbes merilis daftar 10 orang terkaya di Asia Tenggara akhir Oktober 2025.

Baca Juga: Geger Penembakan Pengacara WA di Tanah Abang, Polisi Periksa Sebanyak 40 Orang Saksi

Daftar Terbaru Konglomerat Asia Tenggara Didominasi Indonesi

Berdasarkan Forbes The Real Time Billionaires List per 27 Oktober 2025, lima dari sepuluh konglomerat terkaya di Asia Tenggara berasal dari Indonesia.

Prajogo Pangestu, pendiri korporasi petrokimia PT Barito Pacific, menempati posisi pertama dengan kekayaan 38,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 636 triliun.

Disusul Low Tuck Kwong (PT Bayan Resources) dengan kekayaan 24,8 miliar dollar AS, dan duo Budi serta Michael Hartono (BCA dan Djarum Group) dengan masing-masing sekitar 20 miliar dollar AS.

Baca Juga: Perdagangan Amerika Serikat dan Meksiko Stabil, Trump Tunda Kenaikan Tarif hingga Akhir Tahun

Dominasi Pengusaha Tionghoa-Indonesia dalam Struktur Ekonomi Nasional

Fenomena dominasi pengusaha Tionghoa di puncak daftar kekayaan Indonesia bukan hal baru.

Akar sejarahnya dapat ditelusuri ke masa kolonial Belanda, ketika etnis Tionghoa mendapat peran sebagai perantara ekonomi antara pemerintah kolonial dan penduduk pribumi.

Selama masa kolonial, mereka diberi akses terhadap pendidikan, modal, dan jaringan perdagangan yang lebih luas. Pola ini berlanjut hingga era modern.

Baca Juga: Syahganda Nainggolan Nilai Stimulus dan BLT Mampu Dorong Perputaran Ekonomi Nasional

Pasca-kemerdekaan, walau sempat menghadapi diskriminasi kebijakan pada era 1960–1990-an.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X