NEWS SUMMARY:
- Tiongkok klaim KCJB sukses operasional dua tahun dan berdampak positif.
- Menkeu pastikan utang ditanggung BUMN, bukan APBN.
- RI–Tiongkok setuju restrukturisasi pinjaman demi keberlanjutan proyek.
24JAMNEWS.COM - Apakah proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung benar-benar membebani keuangan negara, atau justru memberi manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat Indonesia?
Pemerintah Tiongkok menegaskan proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh tetap berjalan baik dan memberi manfaat ekonomi besar bagi Indonesia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menyampaikan proyek hasil kerja sama kedua negara itu telah beroperasi dengan lancar selama dua tahun dan terbukti memberi dampak positif bagi masyarakat.
Baca Juga: Dana Pemda Turun Jadi Rp215 Triliun, Mendagri Tito Jelaskan Beda Data dengan Kemenkeu
“Selama dua tahun terakhir, kereta cepat Jakarta–Bandung telah mempertahankan operasi yang aman, tidak terhambat, dan tertib,” ujar Guo dalam konferensi pers reguler di Beijing, Senin, 20 Oktober 2025.
Guo menegaskan bahwa proyek infrastruktur besar seperti KCJB tidak semestinya dinilai hanya dari sisi keuangan, melainkan juga dari kontribusi sosial dan konektivitas kawasan.
Data Operasional: 11,71 Juta Penumpang Sejak Beroperasi
Menurut Guo Jiakun, hingga Oktober 2025, KCJB telah melayani lebih dari 11,71 juta penumpang, dengan jumlah pengguna yang terus meningkat setiap bulan.
Baca Juga: Sekda Bekasi Bantah Isu Rp1 Triliun Dana Endapan, Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan
Ia menilai keberadaan proyek tersebut telah menciptakan manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan, termasuk pembukaan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sepanjang jalur.
“Manfaat ekonomi dan sosialnya terus dilepaskan, menciptakan sejumlah besar lapangan kerja bagi masyarakat lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sepanjang jalur,” kata Guo.
Guo juga menambahkan, proyek ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan di Indonesia dan menjadi simbol kerja sama yang saling menguntungkan antara Tiongkok dan Indonesia.
Baca Juga: Langkah Efisiensi Presiden Prabowo: Harga Pupuk Subsidi Turun, Produksi Petani Naik
Pemerintah Tegaskan Tidak Gunakan APBN Untuk Pembiayaan
Di sisi lain, isu pembiayaan proyek KCJB masih menjadi sorotan di dalam negeri. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa utang proyek tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Artikel Terkait
Sanksi Etik DKPP: DPR Panggil Komisioner KPU Terkait Sewa Jet Embraer Legacy 650
Data Kemendagri dan Bank Indonesia Beda, Gubernur Dedi Mulyadi Klarifikasi Dana Jabar
24 Bulan Tunggakan BPJS Kesehatan Akan Dihapus, Begini Penjelasan Menkeu Purbaya
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Soroti Rp233,97 Triliun Dana Pemda di Bank, BPK Bisa Periksa
Aset FORE Melonjak 64,6 Persen Jadi Rp1,05 Triliun, Laba Bersih Naik 41,94 Persen
Presiden Prabowo Turunkan HET Pupuk 20 Persen, 155 Juta Petani Rasakan Dampak Langsung
Langkah Efisiensi Presiden Prabowo: Harga Pupuk Subsidi Turun, Produksi Petani Naik
Sekda Bekasi Bantah Isu Rp1 Triliun Dana Endapan, Tegaskan Tak Ada Jual Beli Jabatan
Dana Pemda Turun Jadi Rp215 Triliun, Mendagri Tito Jelaskan Beda Data dengan Kemenkeu
Tiongkok Klaim KCJB Layani 11,71 Juta Penumpang, RI Tegaskan Utang Tak Bebani APBN