Purbaya menekankan bahwa stabilitas tarif cukai penting untuk menjaga keberlanjutan industri padat karya.
Sementara penguatan penegakan hukum diperlukan untuk menekan peredaran rokok ilegal di berbagai daerah.
Baca Juga: Sebanyak 40,4 Ton Beras Ilegal Disegel di Batam Saat Stok Nasional Tembus 3,8 Juta Ton Bulog
Kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan kontribusi industri tembakau terhadap lapangan kerja dan penerimaan negara dalam situasi ekonomi yang masih bergejolak secara global.
Daya Saing Otomotif Dijaga dari Tekanan Overcapacity Tiongkok
Sektor otomotif menjadi perhatian karena pasar regional dan global sedang mengalami tekanan akibat overcapacity Tiongkok yang membuat harga kendaraan turun drastis di berbagai negara.
Purbaya mengatakan pemerintah menyiapkan kebijakan untuk menjaga daya saing produsen otomotif nasional.
Baca Juga: Penguatan Diplomasi: Mengapa RI Tambah Wakil Dubes di Beijing di Tengah Lonjakan Investasi Tiongkok
Agar tidak tergerus produk impor berharga sangat murah yang dapat melemahkan investasi jangka panjang.
Langkah ini termasuk penguatan insentif produksi, perbaikan rantai pasok, dan evaluasi bea masuk yang disesuaikan dengan kondisi industri.
Kebijakan Purbaya Strategis untuk Kurangi Risiko Industri
Strategi pemerintah perlu dilakukan mengingat arus masuk barang impor berbiaya rendah meningkat tajam di Asia Tenggara.
Baca Juga: Wacana Redenominasi: 10 Tahun Mandek, Ekonom Sebut Tidak Ada Urgensi Kebijakan Mata Uang Baru
Sektor otomotif, tekstil, dan tembakau membutuhkan kepastian kebijakan agar pelaku usaha mampu melakukan ekspansi tanpa terganggu distorsi pasar.
Tanpa langkah pengamanan seperti BMAD, BMTP, dan penataan kawasan berikat, industri manufaktur lokal akan menghadapi risiko penurunan utilisasi pabrik secara berkepanjangan.****
Artikel Terkait
Mengapa Dana Rp203 Triliun Masih Parkir di Bank? Presiden Prabowo Minta Jawaban Pemda
Soal Redenominasi: Ekonom Ingatkan Dampak ke Daya Beli Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Hubungan Ekonomi Naik 30 Persen: Pemerintah Tambah Wakil Dubes RI di Beijing untuk Percepat Diplomasi
Produksi 34,7 Juta Ton: Mengapa Beras Ilegal Tetap Masuk dan Mengancam Stabilitas Petani?
Data Resmi 2025: Stok Rekor Nasional Tak Hentikan Upaya Masuknya 40,4 Ton Beras Ilegal
Ancaman Psikologis Petani: Efek Masuknya 40,4 Ton Beras Ilegal di Tengah Lonjakan Produksi
Insiden Smelter Gresik, Tambang GBC, Ekspor Freeport Turun Bikin Ekonomi Papua Tengah Merosot
Minus 8 Persen: Kontraksi Ekonomi Papua Tengah Setelah Ekspor Freeport Indonesia Tersendat
Operasi Amankan 12 Pelaku PETI di Tanjung Puting Setelah Temuan Orangutan Tewas di Camp Leakey
5 Celah Pengawasan Negara di Bandara Industri Morowali yang Jadi Sorotan Pemerintah