"Kaki saya sakit semua, ketusuk-ketusuk entah apa. Saya lihat banyak material, batu, kayu, semuanya bercampur."
Baca Juga: BMKG Ungkap 2 Fenomena Atmosfer Pemicu Hujan Sangat Lebat yang Sebabkan Banjir di Sumatera
Di tengah kekacauan itu, Yuni dan suaminya juga sempat menolong seorang tetangga yang terimpit reruntuhan tembok rumah.
"Dia tertimbun. Saya bersihkan dulu mukanya. Suami bantu tarik keluar. Alhamdulillah selamat."
Yuni berharap pemerintah mencarikan warga korban bencana tempat tinggal baru.
Baca Juga: Tragedi Palembayan: 60 Warga Belum Ditemukan, Upaya SAR Temukan 3 Anak Suherman di Lokasi Berbeda
Dia ingin bisa membangun usaha lagi dan memulihkan ekonomi keluarga serta para pekerjanya.
"Terima kasih banyak sudah datang dan membantu. Mudah-mudahan semuanya dipercepat," ujarnya.
Di tengah sisa lumpur dan puing-puing yang pernah menjadi rumahnya, Yuni tetap bersyukur anak-anaknya selamat.
Baca Juga: BBM di Aceh: Pengiriman Udara 2.000 Liter dan Skema Clustering SPBU Jadi Andalan Pertamina
"Rumah habis, usaha hilang. Tapi anak-anak selamat, itu yang paling penting," katanya.
Banjir bandang atau galodo yang berasal dari Sungai Alahan Anggang (Nanggang) menghujam permukiman di Palembayan pada Kamis (27/11/2025) sekitar pukul 17.00 WIB.
Dua nagari terparah disapu galodo yaitu Salareh Aia dan Salareh Aia Timur.
Posko Basarnas di Palembayan mencatat jumlah korban dalam pencarian sebanyak 60 orang hingga Selasa (2/12/2025).