• Sabtu, 18 April 2026

139 Warga Agam Meninggal, Yuni Minta Rumah Baru untuk Pulihkan Usaha dan Nasib 15 Pegawainya

Photo Author
Banny Rachman, 24jamnews.com
- Jumat, 5 Desember 2025 | 15:45 WIB
Warga Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Agam, Sumatra Barat, bertahan di pengungsian setelah galodo menghancurkan permukiman dan menewaskan 139 orang di Kabupaten Agam. (Dok. Tim Media Prabowo)
Warga Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Agam, Sumatra Barat, bertahan di pengungsian setelah galodo menghancurkan permukiman dan menewaskan 139 orang di Kabupaten Agam. (Dok. Tim Media Prabowo)

Baca Juga: Data Terbaru Ungkap Masalah - Masalah Utama yang Disorot Menkeu dalam Iklim Investasi Indonesia

Pengiriman sembako dari berbagai pihak pun lancar. Bahkan, bantuan sudah datang sehari setelah kejadian.

"Bantuan seperti beras, pakaian, semua ada. Makan tinggal ambil," kata dia.

Kini, harapan terbesar Yuni hanya satu, tanah dan rumah untuk memulai kembali kehidupan.

Baca Juga: Survei IPO Ungkap Purbaya Paling Moncer di Kabinet, Setelah Tinggalkan Pekerjaan Lapangan yang Sangat Berat

Rumah habis, usaha lenyap, tapi anak-anak selamat

Yuni masih ingat suara dentuman keras dari arah perbukitan menjadi tanda awal sebelum bencana besar itu datang.

Dia tak pernah menyangka suara itu merupakan pertanda longsor besar yang akan menghancurkan rumah, usaha, dan kehidupan keluarganya.

"Seperti hutan itu berjalan dari atas ke bawah, setinggi tiang listrik. Belum sempat lari ke bukit, arus lumpur sudah datang duluan."

Baca Juga: DPR Tampilkan Video 1,5 Meter Kayu Besar Pascabencana, Titiek Soeharto Minta Penegakan Hukum Tegas

"Banyak korban karena semuanya tak sempat menyelamatkan diri," ujar Yuni mengingat hari kejadian bencana.

Di rumah, Yuni tinggal bersama suami dan tiga anaknya. Sejumlah anak tetangga juga biasa bermain di rumahnya. Saat longsor menerjang, keluarga Yuni terseret arus.

Anak kedua dan ketiganya berhasil mencapai puncak bukit setelah diselamatkan warga. Namun, anak pertamanya sempat ikut terseret lumpur bersama dia.

Baca Juga: Isu Tambang Dinilai Jadi Pemicu Konflik PBNU, Mahfud MD Jelaskan Pergeseran Karakter Organisasi

"Anak saya yang pertama terseret juga. Arusnya cuma sebentar, tapi kuat sekali. Saya heran kepala saya tidak terendam, hanya badan saya ke bawah saja,” kata dia.

Yuni mengaku membutuhkan hampir dua jam untuk keluar dari tumpukan lumpur dan mencapai bukit. Dia merasa seluruh badannya sakit semua.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Banny Rachman

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X