• Sabtu, 18 April 2026

Banjir Bandang Tapanuli Meningkat, WALHI Soroti Dampak Pembukaan Lahan oleh 7 Korporasi

Photo Author
Tim 24 Jam News, 24jamnews.com
- Selasa, 2 Desember 2025 | 15:50 WIB
Sungai Batang Toru pada musim hujan yang debitnya meningkat cepat, memicu kekhawatiran masyarakat.  (Dok. bnpb.go.id)
Sungai Batang Toru pada musim hujan yang debitnya meningkat cepat, memicu kekhawatiran masyarakat. (Dok. bnpb.go.id)

 

24JAMNEWS.COM - Apakah bencana yang berulang di Tapanuli benar-benar sekadar cuaca ekstrem?

Atau ada kerusakan ekologis yang selama ini luput dari perhatian publik?

Sehingga akhirnya memicu pertanyaan besar tentang masa depan Ekosistem Batang ToruBaca Juga: Sorotan Baru: Pernyataan Pejabat Pemerintah Picu Perdebatan Status Bandara Khusus IMIP

Aktivitas Ekstraktif Korporasi Dinilai Memicu Gangguan Ekosistem

WALHI Sumatera Utara menilai pembukaan lahan oleh tujuh korporasi di kawasan Harangan Tapanuli menyebabkan hilangnya tutupan hutan yang berfungsi mengatur hidrologi alami kawasan Batang Toru.

WALHI Sumut menyebut kawasan Harangan Tapanuli mengalami penurunan daya tampung air karena pembangunan infrastruktur ekstraktif seperti tambang, PLTA, PLTMH, geothermal, dan perkebunan sawit.

Dalam pernyataan resmi, WALHI Sumut menduga perubahan bentang alam di area sensitif ini memicu risiko banjir bandang dan longsor yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir.Baca Juga: Negosiasi 25–30 Persen Saham Lotte Chemical Indonesia Masuki Tahap Uji Tuntas Danantara

Tujuh Korporasi yang Disebut Beroperasi di Kawasan Kritis

WALHI Sumut menyebut beberapa korporasi diduga berkontribusi terhadap perubahan bentang alam, yakni:

1. Agincourt Resources
2. PT North Sumatera Hydro Energy.
3. PT Pahae Julu Micro-Hydro Power.

4. PT SOL Geothermal Indonesia
5. PT Toba Pulp Lestari Tbk
6. PT Sago Nauli Plantation7. PTPN III Batang Toru Estate.

Baca Juga: Alasan Syuriyah Menegaskan Keputusan Final Pemberhentian Ketum PBNU Gus Yahya

Korporasi tersebut bergerak pada tambang emas, pembangkit listrik tenaga air, mikrohidro, geothermal, perkebunan kayu rakyat, dan perkebunan sawit.

Mereka beroperasi yang mencakup penambangan, konstruksi, penggalian fondasi bendungan, jalan akses, dan ekspansi perkebunan sawit berpotensi memperbesar kerentanan tanah terhadap erosi.

WALHI Sumut menegaskan semua analisis dilakukan berbasis laporan lapangan, citra satelit, serta dokumentasi masyarakat setempat terkait perubahan kontur area hutan.

Baca Juga: 6 Kriteria Saham Incaran Danantara Indonesia, Fokus Fundamental dan Hindari Risiko Tinggi di BEI

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X