• Sabtu, 18 April 2026

5 Alasan Mengapa 70 Persen Press Release Korporasi Gagal Tembus Media Online

Photo Author
Tim 24 Jam News, 24jamnews.com
- Selasa, 28 Oktober 2025 | 08:16 WIB
Tim redaksi menyeleksi press release berdasarkan dampak dan relevansi publik. (Pixabay.com/ivanacoi)
Tim redaksi menyeleksi press release berdasarkan dampak dan relevansi publik. (Pixabay.com/ivanacoi)

Sementara itu, riset CNN Indonesia (2023) menunjukkan 67% jurnalis menolak rilis karena gaya bahasa yang tidak sesuai gaya jurnalistik dan minim data pendukung.

Salah Target Media Jadi Kesalahan Paling Umum

Kesalahan segmentasi juga sering terjadi. Banyak praktisi PR mengirimkan rilis secara massal tanpa riset terhadap fokus redaksi.

Baca Juga: Donald Trump dan Xi Jinping Siapkan Pertemuan 30 Oktober, Pasar Global Bergerak Naik

Rilis tentang teknologi yang dikirim ke rubrik gaya hidup, atau berita bisnis yang dikirim ke desk politik, hampir pasti dihapus.

Menurut Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI, 2024), pendekatan personal dan pemahaman terhadap niche media menjadi kunci.

PR harus mengenal karakter media, audiens, dan topik yang sedang relevan. Kirimkan informasi yang cocok dengan DNA redaksi.

Baca Juga: BPOM dan BPJPH Diminta Audit Aqua, Koalisi Kebenaran Soroti Dugaan Ganti Bahan Baku

Model Bisnis Media Menentukan Pilihan Redaksi

Media online kini beroperasi dengan model berbasis trafik dan eksklusivitas.

Konten yang viral seperti isu politik, ekonomi, atau sosial cenderung lebih diprioritaskan dibanding rilis korporasi yang bersifat internal.

Berita eksklusif memiliki 3 kali lipat potensi klik dibandingkan rilis yang bersifat umum.

Baca Juga: Restrukturisasi Jadi Jalan Tengah Atasi Utang Rp6,9 Triliun Proyek Kereta Cepat Whoosh

The Guardian (2024) menulis bahwa media modern menyeimbangkan kebutuhan berita publik dengan tekanan komersial melalui advertorial berbayar yang transparan.

Strategi PR Modern: Menjual Cerita, Bukan Sekadar Mengirim Rilis

Untuk meningkatkan peluang publikasi, praktisi PR perlu mengubah perspektif: bukan lagi sekadar “mengirim rilis”, tetapi “menjual cerita”.

Menurut PR Indonesia (2024), strategi efektif meliputi fokus pada dampak publik, menyertakan data dan visual siap pakai, serta melakukan follow-up profesional tanpa memaksa.

Baca Juga: Evelina Pietruschka Buron Rp12,7 Triliun Diduga Hidup Mewah di Kawasan Mewah Beverly Hills AS

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X